PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp1,18 triliun sepanjang tahun 2025, menunjukkan penurunan signifikan sebesar 77% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,15 triliun. Penurunan rugi ini mencerminkan perbaikan kinerja keuangan perusahaan meskipun masih menanggung kerugian.
Dalam laporan keuangan yang dirilis, GOTO berhasil meraih pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun, meningkat 15,27% dibandingkan dengan pendapatan tahun 2024 yang sebesar Rp15,89 triliun. Peningkatan pendapatan ini menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan rugi bersih.
Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, menyatakan bahwa perusahaan telah berhasil melampaui pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2025 yang dipatok antara Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun. Selain itu, GOTO juga menetapkan target EBITDA untuk tahun 2026 yang diproyeksikan meningkat sebesar 59-69% menjadi Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Hans menjelaskan, “Kami mencatatkan kinerja yang kuat di kuartal IV/2025, dengan GTV inti meningkat 49% secara tahunan dan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang telah ditetapkan.”
Dengan terus meningkatnya momentum ini, GOTO optimis bahwa pertumbuhan laba akan berlanjut, terutama dalam lini bisnis Financial Technology dan On-Demand Services sepanjang tahun 2026. Untuk unit usaha On-Demand Services, GOTO memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat pada paruh kedua tahun ini.
“Kami akan fokus memberikan solusi sesuai kebutuhan konsumen, baik di segmen affluent maupun mass market, serta terus berinvestasi pada kapabilitas utama,” tambahnya.
Direktur Keuangan GOTO, Simon Ho, juga mengungkapkan bahwa kinerja perusahaan mencerminkan keberhasilan yang berkelanjutan dalam meningkatkan pendapatan dan profitabilitas. “Kami kembali mencetak rekor EBITDA yang disesuaikan, berkat peningkatan pendapatan bersih dan disiplin biaya,” ungkapnya.
Simon menambahkan bahwa GOTO mencatatkan peningkatan arus kas bebas yang menunjukkan penguatan fundamental bisnis dan alokasi modal yang efektif. “Kinerja setahun penuh ini menjadi fondasi solid untuk pertumbuhan berkelanjutan dan profitabilitas di tahun 2026,” tuturnya.
Untuk tahun 2026, GOTO memperkirakan EBITDA yang disesuaikan berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Rinciannya, EBITDA yang disesuaikan untuk unit usaha Fintech diperkirakan berada di antara Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun, sementara untuk unit usaha On-Demand Services diperkirakan berkisar antara Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.
Dari data yang diperoleh, terlihat jelas bahwa meskipun GOTO masih mencatatkan rugi, langkah-langkah yang diambil perusahaan menunjukkan optimisme dan potensi pertumbuhan yang signifikan di masa mendatang. Ini menjadi hal yang penting untuk dicermati oleh para investor dan pemangku kepentingan di Indonesia, terutama di tengah persaingan ketat di industri teknologi dan layanan keuangan.
Kesimpulan: GOTO menunjukkan perbaikan yang menggembirakan dalam laporan keuangannya untuk tahun 2025, dengan penurunan rugi bersih yang signifikan dan peningkatan pendapatan yang positif. Proyeksi EBITDA yang optimis untuk tahun 2026 memberi harapan akan pertumbuhan yang lebih baik di masa mendatang.
