Prediksi Lonjakan Arus Logistik Jelang Lebaran 2026 di Indonesia

Surabaya – Jelang Lebaran 2026, arus logistik nasional diprediksi akan mengalami peningkatan yang signifikan. Wilayah dengan aktivitas pengiriman barang yang diperkirakan melonjak adalah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Para pelaku usaha logistik dan pemangku kepentingan terkait telah menyiapkan berbagai strategi untuk memastikan kelancaran arus logistik menjelang hari raya besar tersebut.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jatim, Sebastian Wibisono, menjelaskan bahwa lonjakan arus logistik jelang Lebaran adalah hal yang tidak terhindarkan. Diperkirakan, volume arus logistik akan meningkat hingga 80%, mengingat Surabaya berfungsi sebagai jalur transit utama menuju wilayah Indonesia Timur. Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak diprediksi akan normal kembali setelah bulan April.

“Kondisi ini diperparah oleh bersamaan dengan momen Nataru, Imlek, dan Idulfitri, yang membuat beban pengiriman sangat tinggi. Saat Imlek, banyak barang impor yang masuk dan didistribusikan ke berbagai daerah seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan,” kata Wibi.

Untuk mengantisipasi penumpukan barang, ALFI Jatim telah menerapkan strategi pengalihan lokasi penyimpanan. Wibi menambahkan bahwa gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor akan dimanfaatkan untuk menampung barang impor untuk sementara waktu.

“Kebijakan ini telah disetujui setelah koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk memastikan arus logistik tetap lancar. Lonjakan arus logistik tahun lalu mencapai 103%, namun dapat diantisipasi dengan memindahkan kontainer ke storage domestik dan depo yang beroperasi 24 jam,” jelasnya.

Wibi melanjutkan, setiap tahun selalu terjadi migrasi antar terminal, terutama untuk kontainer ekspor-impor, di mana ada dua terminal utama di Surabaya: Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya.

Di sisi lain, Ketua ALFI Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko, mengungkapkan bahwa volume kargo jelang Lebaran 2026 telah meningkat hingga 130%. Di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, kenaikan ini membuat rotasi kontainer meningkat dari rata-rata 2.800 unit per hari menjadi 3.000 unit.

Tren pertumbuhan aktivitas logistik di Jateng juga didorong oleh meningkatnya investasi industri, seperti di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang berkontribusi pada peningkatan throughput di Pelabuhan Tanjung Emas.

“Pada tahun 2023, diperkirakan sekitar 700.000 TEUs, meningkat menjadi 800.000 TEUs pada 2024, dan pada 2025 diprediksi sudah mencapai 1 juta TEUs. Angka ini cukup signifikan, meskipun baru sekitar 20% perusahaan di kawasan industri yang sudah berproduksi,” papar Teguh.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi, menambahkan bahwa peningkatan aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Emas mencerminkan membaiknya perekonomian regional. Volume bongkar muat diperkirakan naik sekitar 20% dibandingkan hari biasa. Apindo Jateng memprediksi bahwa sekitar 10 hari sebelum Lebaran, lonjakan aktivitas bongkar muat akan mencapai sekitar 25%.

“Sejak bulan Desember, kami sudah melihat peningkatan aktivitas bongkar muat di pelabuhan. Ini akan terus meningkat menjelang Lebaran, dengan kenaikan sekitar 25% dibandingkan hari biasa,” ungkap Frans.

Komoditas yang mendominasi peningkatan arus barang antara lain adalah kebutuhan konsumsi musiman seperti bahan pangan, produk fesyen, dan pernak-pernik Lebaran. Peningkatan ini diyakini akan memberikan dampak positif bagi UMKM dan perekonomian lokal.