Harga LPG 3 Kg, 5,5 Kg, dan 12 Kg per April 2026 di Indonesia

Harga LPG di Indonesia per 21 April 2026 mengalami penyesuaian, terutama untuk produk nonsubsidi seperti Bright Gas. Kenaikan harga ini sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat, terutama yang bergantung pada gas sebagai sumber energi utama dalam rumah tangga.

Menurut laporan resmi dari Pertamina yang dirilis pada 21 April 2026, harga LPG 5,5 kg kini ditetapkan sebesar Rp107.000 per tabung, meningkat Rp17.000 dari harga sebelumnya yang tercatat pada November 2023, yaitu Rp90.000. Sementara itu, harga LPG 12 kg mengalami kenaikan yang cukup signifikan, menjadi Rp228.000 per tabung, naik Rp36.000 dari harga sebelumnya yang mencapai Rp192.000.

Penyesuaian harga ini berlaku di berbagai wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Selain itu, harga yang sama juga diterapkan di Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Untuk wilayah di luar Pulau Jawa, harga Bright Gas 5,5 kg berkisar antara Rp111.000 hingga Rp134.000 per tabung, sedangkan harga Bright Gas 12 kg bervariasi antara Rp230.000 hingga Rp285.000 per tabung, tergantung daerahnya.

Harga LPG 3 Kg

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga LPG subsidi 3 kg tidak mengalami perubahan. Menurutnya, pemerintah belum pernah menaikkan harga produk subsidi ini sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006. Dalam pernyataannya, Bahlil menyatakan, “Sejak LPG 3 kg diterapkan, sampai sekarang belum pernah kita naikkan harga dari pemerintah.”

Dia menjelaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab dalam mengontrol harga LPG subsidi, dan jika ada kenaikan harga di tingkat konsumen, hal tersebut lebih kepada manipulasi di tingkat distributor dan pangkalan. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, harga asli LPG 3 kg sebelum disubsidi sebenarnya mencapai Rp42.750 per tabung, dengan subsidi sekitar Rp30.000, sehingga harga yang dibayarkan masyarakat menjadi Rp12.750 per tabung.

Bahlil juga menambahkan bahwa harga jual eceran LPG 3 kg seharusnya tidak lebih dari Rp19.000 per tabung. Ia menekankan, jika ada yang menjual dengan harga lebih tinggi, berarti terjadi kesalahan dalam rantai distribusi. “Agen baru ke pangkalan itu Rp16.000, jadi ke pengecer seharusnya maksimal Rp19.000. Namun, jika ada yang menjual hingga Rp26.000, itu salah,” ujar Bahlil.

Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg di Seluruh Indonesia

Berikut ini adalah rincian harga LPG Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg di beberapa provinsi:

  • Aceh: 5,5 Kg – Rp111.000, 12 Kg – Rp230.000
  • Sumatra Utara: 5,5 Kg – Rp111.000, 12 Kg – Rp230.000
  • DKI Jakarta: 5,5 Kg – Rp107.000, 12 Kg – Rp228.000
  • Jawa Barat: 5,5 Kg – Rp107.000, 12 Kg – Rp228.000
  • Kalimantan Tengah: 5,5 Kg – Rp114.000, 12 Kg – Rp238.000
  • Sulawesi Selatan: 5,5 Kg – Rp111.000, 12 Kg – Rp230.000

Dalam konteks ini, ketidakstabilan harga energi global menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kenaikan harga LPG ini berpotensi berdampak pada biaya hidup masyarakat, terutama mereka yang mengandalkan gas untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Kesimpulan

Perubahan harga LPG di Indonesia per April 2026 menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dengan adanya kenaikan harga LPG nonsubsidi, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola penggunaan energi, dan pemerintah perlu mengatasi masalah distribusi untuk menghindari manipulasi harga di tingkat pengecer.

Investor Melepas Saham Medco Saat Harga Minyak Melambung

Jakarta – Di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, sejumlah investor besar terlihat melepas saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) ketika harga minyak global meroket. Harga minyak Brent sempat menembus level US$100 per barel dan mengalami fluktuasi yang signifikan, berdampak pada pasar energi di Indonesia.

Penyebab Lonjakan Harga Minyak

Perang yang berkepanjangan antara AS dan Iran telah menyebabkan ketidakpastian di pasar energi global. Pada hari Senin (9/3/2026), harga minyak bahkan mendekati US$120 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh pengurangan produksi dari negara-negara penghasil minyak utama di Teluk Persia, terutama terkait dengan penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk pengiriman minyak dunia.

Reaksi Investor di Pasar Saham

Dalam situasi ini, beberapa investor besar yang sebelumnya optimis terhadap prospek saham MEDC kini berbalik arah. Mereka memilih untuk melepas sahamnya, berpotensi mengindikasikan ketidakpastian yang lebih luas terkait stabilitas harga minyak dan dampaknya terhadap pendapatan emiten migas seperti MEDC.

Investor yang terlibat termasuk manajer aset terkemuka dan lembaga keuangan yang sebelumnya memiliki kepentingan signifikan di saham tersebut. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap ketidakpastian jangka pendek yang dihadapi dalam industri energi, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada harga minyak global.

Dampak Terhadap Pasar Energi Indonesia

Saham MEDC yang melemah dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar energi di Indonesia. Sebagai salah satu emiten migas terbesar di Tanah Air, kinerja MEDC berpengaruh pada investor lokal dan asing, serta pada kepercayaan umum terhadap sektor energi di Indonesia.

Lebih lanjut, fluktuasi harga minyak dapat mempengaruhi berbagai aspek, termasuk kebijakan energi nasional, investasi di sektor energi terbarukan, dan ketahanan energi domestik. Jika harga minyak terus berfluktuasi, hal ini dapat mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan strategi diversifikasi energi dan mempercepat transisi ke sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Kesimpulan

Dengan melemahnya saham MEDC di tengah lonjakan harga minyak yang dramatis, investor harus tetap waspada terhadap dinamika pasar yang sedang berlangsung. Ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak global selalu menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh para pemangku kepentingan dalam industri energi. Bagaimana langkah selanjutnya dari pemerintah dan pelaku industri di Indonesia akan sangat menentukan arah pasar energi Tanah Air ke depan.

PGN Palembang Pastikan Pasokan Gas Aman Meski Ada Konflik Global

PALEMBANG — PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menegaskan bahwa pasokan gas bumi untuk pelanggan di Palembang tetap terjaga dan aman meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.

Area Head PGN Palembang, Braman Setyoko, menjelaskan bahwa pasokan gas yang diterima pelanggan di wilayah Palembang dan sekitarnya berasal dari sumber gas konvensional yang diperoleh dari pengeboran sumur-sumur domestik. Hal ini memastikan bahwa distribusi gas di daerah tersebut tidak terpengaruh secara langsung oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang dapat mengganggu rantai pasokan energi global.

“Secara umum, untuk Palembang dan Sumatra Selatan, pasokan gas masih bersumber dari sumur-sumur di dalam negeri, sehingga kondisi perang tidak mengganggu pasokan kami,” ungkap Braman pada Jumat (6/3/2026).

Lebih lanjut, Braman menambahkan bahwa meski ada potensi tambahan pasokan dalam bentuk liquefied natural gas (LNG), sumbernya juga berasal dari dalam negeri, seperti dari fasilitas LNG di Bontang dan Papua. “Hingga saat ini, semua LNG yang digunakan PGN berasal dari sumber domestik. Jadi, khusus untuk pelanggan kami di Sumsel, belum ada tanda-tanda gangguan pasokan,” imbuhnya.

Kesiapan Pasokan Gas Selama Ramadan dan Idulfitri

Braman juga menjamin bahwa kebutuhan gas bagi pelanggan di Palembang selama bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri akan aman dan mencukupi. Dia memproyeksikan bahwa stabilitas pasokan gas untuk wilayah Palembang akan tetap terjaga sepanjang tahun 2026, bahkan hingga tahun-tahun mendatang.

“Kami yakin kebutuhan gas untuk Palembang dan sekitarnya dapat terpenuhi hingga 100%. Namun, penting untuk dicatat bahwa ini bukanlah proyeksi untuk seluruh kondisi pasokan energi di Indonesia,” tutupnya.

Dampak Terhadap Konsumen dan Industri

Keberhasilan PGN dalam menjaga pasokan gas di Palembang merupakan berita baik bagi industri dan konsumen. Mengingat bahwa gas bumi adalah sumber energi utama bagi banyak sektor, termasuk industri, sektor transportasi, dan rumah tangga, keberlanjutan pasokan gas menjadi hal yang sangat penting.

Dengan kondisi stabil ini, perusahaan dan masyarakat di Palembang tidak perlu khawatir akan gangguan pasokan gas yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal ini juga menjadi indikator positif bagi investasi di sektor energi di Indonesia, yang semakin dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kesimpulan

PGN Palembang telah memberikan jaminan bahwa pasokan gas di wilayah tersebut tetap aman meskipun ada ketegangan geopolitik. Dengan sumber gas yang berasal dari dalam negeri, PGN berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan industri di Palembang, sehingga diharapkan dapat mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.