Unpad Pimpin Riset Vaksin TB dalam Negeri, Ini Rencana Mereka

Universitas Padjadjaran () telah ditunjuk untuk memimpin penelitian vaksin (TB) yang dikembangkan di dalam negeri. Dalam skenario optimis, target pengembangan vaksin ini dapat tercapai dalam waktu lima tahun. Peneliti TB Unpad, Bachti Alisjahbana, menyatakan bahwa target tersebut realistis dan semua peneliti akan bekerja keras untuk menghasilkan kandidat vaksin yang menjanjikan.

Bachti menjelaskan bahwa pengembangan vaksin memerlukan sejumlah tahapan, termasuk pemahaman mengenai respons imunologis manusia terhadap infeksi TB yang kompleks. “Kami sudah memulai penelitian mengenai respons inang terhadap infeksi TB secara berkesinambungan,” ujarnya.

Tim peneliti Unpad sebelumnya terlibat dalam validasi klinis berbagai jenis . Dalam proses validasi tersebut, mereka mempelajari bagaimana tubuh manusia merespons infeksi kuman TB. Penelitian yang telah dilakukan mencakup efek re-vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) dan uji klinis vaksin M72/AS01e yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi internasional.

Bachti menambahkan bahwa pengembangan vaksin TB berbasis mRNA merupakan pengalaman tim Unpad yang terbaru. “Uji praklinis pada hewan telah dilakukan dan kami berencana untuk melanjutkan ke uji coba pada manusia,” jelasnya. Rencana riset vaksin TB buatan dalam negeri ini tidak dimulai dari nol, melainkan dari kandidat vaksin yang ada. Tim Unpad telah menjalin kerja sama dengan The Jenner Institute di University of Oxford untuk mengembangkan yang menunjukkan respons baik pada mencit.

Harapannya, hasil-hasil penelitian yang telah ada dapat menjadi dasar untuk mempercepat pengembangan vaksin TB dalam negeri yang efektif dan dapat diakses secara luas. Pada Rapat Koordinasi Nasional Pengentasan TB di Indonesia yang berlangsung pada 14 Juli 2026, Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, meminta Unpad untuk memimpin penelitian dan pengembangan vaksin TB dalam negeri. Rapat dihadiri oleh sejumlah pejabat, termasuk Deputi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas serta perwakilan dari BRIN dan Biofarma.

Benjamin mengungkapkan rasa senangnya saat mendengar Unpad akan mengembangkan vaksin TB. “Kami siap mendukung dan membawa tim ke Unpad untuk kolaborasi,” ujarnya. Dalam konteks ini, Rumah Sakit Unpad juga berencana membangun gedung khusus untuk pemberantasan TB, dan Benjamin mengusulkan agar penelitian vaksin TB dipusatkan di Unpad dengan melibatkan berbagai pihak.

Saat ini, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban TB yang signifikan, menyumbang sekitar 10 persen dari kasus TB global, dengan data 2024 menunjukkan 1,08 juta orang sakit dan 126 ribu kematian. Rektor Unpad, Arief S. Kartasasmita, berkomitmen untuk segera merumuskan langkah-langkah yang akan diajukan kepada Kementerian Kesehatan, baik untuk jangka pendek maupun menengah, agar pada tahun 2029 dapat mencapai hasil signifikan dalam penanganan TB.

Kemenkes Tanggung Biaya Pengobatan Andrie Yunus Pasca Serangan

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan bagi Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), yang menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal. Kejadian tragis ini terjadi di Jalan Salemba, Jakarta, pada hari Kamis, 12 Maret 2026.

Setelah insiden tersebut, Andrie segera dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk mendapatkan perawatan medis yang diperlukan. Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, menegaskan bahwa semua biaya perawatan Andrie akan ditanggung oleh kementerian. “Iya. Dirawat di RSCM dan akan kita gratiskan,” ungkap Widyawati saat dihubungi pada Selasa, 17 Maret 2026.

Kondisi Medis Andrie Yunus Pasca Serangan

Menurut informasi dari pihak RSCM, Andrie Yunus mengalami luka bakar yang cukup serius di beberapa bagian tubuhnya, termasuk wajah. Manajer Hukum dan Humas RSCM, Yoga Nara, menjelaskan bahwa Andrie diterima di rumah sakit pada dini hari Jumat, 13 Maret 2026. Tim medis segera melakukan tindakan irigasi pada area yang terpapar zat kimia untuk mengurangi dampak dari air keras tersebut dan memperbaiki kondisi jaringan.

Setelah evaluasi awal, dokter menemukan bahwa Andrie mengalami luka bakar sekitar 20% di permukaan kulit dan juga mengalami trauma kimia pada mata kanannya, yang berada dalam kondisi parah dengan tingkat keparahan tiga pada fase akut. “Kondisi tersebut menyebabkan penurunan tajam pada penglihatan serta kerusakan pada permukaan kornea,” tambah Yoga Nara.

Penanganan Medis yang Diberikan

Untuk menangani kondisi mata Andrie, RSCM melakukan pembersihan jaringan yang rusak serta transplantasi membran amnion untuk melindungi permukaan mata dan mendukung proses penyembuhan. Selain itu, Andrie mendapatkan terapi yang meliputi perawatan luka, pemberian antibiotik, obat anti-inflamasi, vitamin, dan pengobatan untuk menjaga tekanan bola mata tetap terkontrol.

Saat ini, kondisi umum Andrie Yunus telah stabil dan tidak berada dalam keadaan kritis. Penanganan medis akan terus dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan kondisi pasien. Yoga Nara menambahkan, “Kami akan terus memantau dan memberikan perawatan terbaik untuk Andrie.”

Dampak Kasus ini bagi Masyarakat dan Upaya Penanganan

Kejadian penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus mengundang perhatian luas dari masyarakat dan berbagai pihak, termasuk pemerintah. Istana Kepresidenan telah mengeluarkan perintah untuk mengusut tuntas kasus ini. Pihak kepolisian juga tengah mendalami hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk menemukan pelaku di balik tindakan kekerasan ini.

Kasus ini menimbulkan keprihatinan mendalam mengenai keamanan para aktivis di Indonesia serta pentingnya perlindungan terhadap mereka yang berjuang untuk keadilan dan hak asasi manusia. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bersatu dalam memberikan dukungan kepada para korban kekerasan demi mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Kesimpulan

Dengan adanya penanganan medis yang komprehensif dan dukungan dari Kemenkes, diharapkan Andrie Yunus dapat segera pulih dari luka-lukanya. Kasus ini juga menjadi pengingat penting akan tantangan yang dihadapi oleh aktivis di Indonesia dan perlunya upaya sistematis untuk menjaga keselamatan mereka. Di tengah tantangan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memberikan dukungan kepada Andrie tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua aktivis.