Yogyakarta, Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) D.I. Yogyakarta mengumumkan bahwa inflasi di Yogyakarta mencapai 4,91% (year on year) pada Februari 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,50. Secara bulanan, inflasi Yogyakarta juga mencatat angka 0,68% (month to month) pada periode yang sama.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS D.I. Yogyakarta, Endang Tri Wahyuningsih, mengindikasikan bahwa laju inflasi bulanan di Yogyakarta sejajar dengan tingkat inflasi nasional. Namun, laju inflasi tahunan menunjukkan angka yang cukup tinggi.
“Tingkat inflasi tahunan menunjukkan angka yang signifikan, baik di Yogyakarta maupun nasional, ini disebabkan oleh efek basis yang rendah,” ujar Endang saat konferensi pers pada Kamis (5/3/2026).
Penyebab Inflasi di Yogyakarta
Berdasarkan kelompok pengeluaran, kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan di Yogyakarta berasal dari kategori perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang memberikan andil inflasi sebesar 2,42%. Diikuti oleh perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,42%, serta makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan kontribusi sebesar 0,71%.
“Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan, terutama tarif listrik yang pada tahun 2026 ini tidak mendapatkan diskon. Berbeda dengan tahun lalu yang mendapatkan diskon sampai 50%,” tambahnya.
Komoditas Penggerak Inflasi
Dalam analisis lebih mendalam, terdapat lima komoditas yang menjadi penyebab utama inflasi di D.I. Yogyakarta. Tarif listrik menempati posisi teratas dengan andil inflasi 2,32%, diikuti oleh emas perhiasan yang mencatat andil inflasi sebesar 1,37%, beras dengan 0,17%, daging ayam ras yang memberikan andil 0,10%, dan bawang merah dengan andil sebesar 0,06%.
“Emas perhiasan selalu menjadi salah satu penyebab inflasi utama. Sedangkan harga beras yang sebelumnya tinggi kini sudah stabil,” jelas Endang.
Perbandingan Inflasi di Dua Kota
Pada bulan Februari 2026, kedua kota di D.I. Yogyakarta mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi tahunan sebesar 4,70% dengan IHK 109,47, sedangkan Kota Yogyakarta mengalami inflasi 5,19% dengan IHK 111,77.
“Inflasi di Kabupaten Gunungkidul lebih rendah dibandingkan Kota Yogyakarta, dengan inflasi bulanan masing-masing sebesar 0,66% dan 0,72%,” tutup Endang.
Dampak Inflasi untuk Masyarakat
Inflasi yang cukup tinggi di Yogyakarta berpotensi mempengaruhi daya beli masyarakat. Kenaikan harga pada berbagai komoditas, terutama kebutuhan pokok, dapat mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk memantau dan mengambil langkah strategis agar inflasi tidak terus melambung, demi kesejahteraan masyarakat.
Kesimpulan
Inflasi di Yogyakarta pada Februari 2026 mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak daerah di Indonesia. Dengan inflasi yang setara dengan tingkat nasional dan berbagai faktor pendorong, perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
