Strategi Industri Furnitur Indonesia Hadapi Tantangan Global

JAKARTA — Di tengah ketidakpastian global yang disebabkan oleh konflik geopolitik dan tekanan logistik, industri furnitur nasional menunjukkan optimisme untuk terus tumbuh. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menegaskan bahwa pasar furnitur dunia masih memiliki potensi besar, dengan nilai yang diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat.

“Outlook saya tetap optimistis, tetapi optimisme itu harus realistis. Permintaan dunia masih ada, meskipun pola belanja, kanal distribusi, dan preferensi konsumen berubah,” ungkap Sobur dalam pernyataannya kepada Bisnis pada Rabu (14/4/2026).

Tantangan Global dan Peluang untuk Indonesia

Menurut Sobur, tantangan yang dihadapi industri furnitur Indonesia saat ini meliputi ketidakpastian akibat geopolitik, kebijakan tarif, serta tingginya biaya logistik. Meskipun demikian, setiap tantangan juga membawa peluang, terutama bagi Indonesia jika mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tersebut.

Untuk memaksimalkan peluang di tengah ketidakpastian global, HIMKI mendorong beberapa langkah strategis. Langkah pertama adalah memperkuat posisi industri furnitur sebagai sektor prioritas nasional yang berbasis nilai tambah. Kedua, rantai pasok mulai dari bahan baku hingga logistik harus diperbaiki agar lebih efisien. Sobur menambahkan bahwa para pelaku industri selama ini dihadapkan pada masalah ketersediaan, kualitas, kesinambungan pasokan, serta harga yang tinggi.

Strategi untuk Meningkatkan Daya Saing

“Dokumen strategis Kemenperin sendiri menyinggung persoalan bahan baku yang mahal dan langka, serta logistik yang masih menyulitkan antara lokasi bahan baku dan lokasi industri kecil dan menengah,” jelasnya. Tingginya biaya logistik dan kompleksitas distribusi yang dipengaruhi oleh faktor geografis juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Langkah ketiga yang perlu dilakukan adalah mendorong peningkatan kapasitas produksi dan kualitas sumber daya manusia melalui modernisasi teknologi, penguatan desain, serta kemitraan antara pelaku usaha kecil, menengah, dan besar. Keempat, perluasan akses pasar dapat dilakukan melalui pameran internasional, business matching, dan diplomasi dagang.

“Indonesia juga perlu memperkuat posisi sebagai produsen furnitur bernilai tinggi, bukan hanya bersaing dari sisi harga, tetapi juga unggul dalam aspek legalitas, desain, karakter, dan keberlanjutan,” tambah Sobur.

Kesimpulan: Peluang dalam Ketegangan Geopolitik

Abdul Sobur meyakini bahwa dengan strategi yang tepat dan konsisten, industri furnitur nasional tidak hanya akan mampu bertahan di tengah tekanan global, tetapi juga memiliki peluang untuk naik kelas sebagai pemain utama di pasar internasional. “Bagi Indonesia, ketegangan geopolitik ini bisa menjadi peluang besar jika kita cepat berbenah,” tegasnya.

Namun, dia juga berharap agar pemerintah melakukan perbaikan dalam aspek regulasi. Pelaku usaha sering kali dihadapkan pada banyak lapisan kepatuhan, mulai dari legalitas kayu, standar kualitas, persyaratan negara tujuan, isu keberlanjutan, hingga dinamisasi tarif dan hambatan non-tarif di pasar ekspor. Meski regulasi penting untuk menjaga kredibilitas, proses yang rumit dan mahal dapat menekan pelaku usaha kecil.

“HIMKI memandang bahwa kebijakan harus menjadi alat penguat daya saing, bukan justru biaya tambahan yang melemahkan produsen,” pungkas Sobur.