Pertemuan Strategis di Jatim
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengadakan pertemuan dengan seluruh bupati dan wali kota se-Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Pertemuan ini bertujuan untuk menyatukan pandangan dan merumuskan kebijakan yang adaptif serta responsif terhadap kondisi geopolitik global yang semakin memanas, terutama setelah terjadinya konflik bersenjata di Jazirah Arab.
Dampak Geopolitik Global
Khofifah menyampaikan bahwa dinamika geopolitik yang terjadi saat ini berpotensi menimbulkan gangguan pada rantai pasok, fluktuasi harga energi, serta inflasi yang harus diantisipasi secara kolektif oleh semua pemangku kepentingan. “Kita harus memahami bahwa dampak dari geopolitik ini akan mempengaruhi sektor energi, pangan, dan logistik, sehingga menjadi risiko nyata yang perlu kita hadapi bersama,” ujarnya di hadapan para kepala daerah pada Kamis (26/3/2026).
Strategi Ketahanan Ekonomi Jatim
Dalam menghadapi tantangan global ini, Khofifah menekankan pentingnya penguatan ketahanan dan peningkatan kapasitas adaptasi di daerah. Ia menegaskan bahwa tantangan yang ada tidak hanya sebatas bertahan, tetapi juga bagaimana menjadikan Jawa Timur sebagai daerah yang resilien, adaptif, dan mampu memanfaatkan peluang di tengah dinamika global yang ada.
Jawa Timur berperan penting dalam perekonomian nasional, menyumbangkan 25,29% terhadap ekonomi Pulau Jawa dan 14,40% terhadap ekonomi nasional. Pada tahun 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur diperkirakan mencapai Rp3.403,17 triliun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33%, didukung oleh sekitar 23,8 juta pekerja.
Investasi dan Logistik di Jatim
Kinerja investasi di Jawa Timur menunjukkan tren yang positif, dengan kontribusi sebesar 7,5% terhadap total investasi nasional, menempatkannya sebagai peringkat ketiga se-Indonesia. Pada triwulan IV tahun 2025, investasi di Jawa Timur tumbuh 31,6% secara kuartalan dan 11,4% secara tahunan, mencerminkan kepercayaan investor yang tetap tinggi.
Jawa Timur juga berfungsi sebagai simpul distribusi nasional dengan Pelabuhan Tanjung Perak yang melayani 24 dari 41 rute tol laut dan menyuplai hampir 80% logistik ke 19 provinsi di Indonesia Timur. Dukungan infrastruktur seperti 7 bandara, 37 pelabuhan, dan 12 ruas jalan tol semakin memperkuat posisi Jatim di sektor logistik.
Ketahanan Pangan dan Energi
Jawa Timur dikenal sebagai lumbung pangan nasional dengan produksi padi dan beras tertinggi di Indonesia. Cadangan beras pemerintah di Jatim tercatat mencapai 825,36 ton, didukung oleh populasi ternak terbesar di tanah air. Khofifah menekankan bahwa menjaga ketahanan pangan adalah suatu keharusan strategis, agar Jawa Timur tidak hanya mampu bertahan dalam krisis pangan tetapi juga menjadi penopang ketahanan pangan nasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengembangkan ekosistem pangan dari hulu ke hilir melalui peningkatan produksi, optimalisasi lahan, dan penguatan distribusi melalui program Jatim Agro-Hub. Stabilisasi harga juga dilakukan rutin melalui operasi pasar dan pasar murah di 38 kabupaten/kota, serta optimalisasi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD).
Energi Terbarukan dan Tantangan ke Depan
Dalam sektor energi, Khofifah memastikan ketersediaan BBM dan LPG di Jawa Timur dalam kondisi aman, terutama menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2026. Namun, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas harga energi global tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi ke depan. Untuk pengembangan jangka panjang, Pemprov Jatim terus mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan total kapasitas mencapai 709,13 Megawatt (MW).
Secara keseluruhan, langkah-langkah yang diambil oleh Gubernur Khofifah dan pemerintah daerah di Jawa Timur mencerminkan upaya untuk menghadapi tantangan global dan menjaga ketahanan ekonomi serta pangan di tengah ketidakpastian yang ada.
