BRI Siapkan Rp819 Miliar untuk Libur Nyepi dan Lebaran 2026

DENPASAR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Region 17 Denpasar mengumumkan kesiapan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama momen Libur Nyepi dan Lebaran 2026. Dalam persiapan tersebut, BRI menyiapkan uang tunai sebesar Rp819 miliar yang akan didistribusikan melalui berbagai saluran seperti mesin ATM, CRM, dan layanan unit kerja operasional.

Jadwal Operasional Terbatas Selama Libur

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengungkapkan bahwa BRI akan tetap membuka layanan terbatas pada tanggal 18, 20, 23, dan 24 Maret 2026. Layanan ini akan tersedia di sejumlah unit kerja yang tersebar di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan jam operasional dari pukul 08.00 hingga 15.00 WITA. Total ada 26 unit kerja yang akan beroperasi selama periode libur panjang ini.

Kantor cabang yang akan tetap beroperasi di Bali meliputi:

  • Branch Office Amlapura
  • Denpasar Gajah Mada
  • Denpasar Gatot Subroto
  • Renon
  • Kuta
  • Negara
  • Tabanan
  • Singaraja

Sementara itu, di NTB, cabang yang beroperasi meliputi:

  • Dompu
  • Mataram
  • Praya
  • Raba Bima
  • Selong
  • Sumbawa Besar

Di NTT, layanan akan tersedia di:

  • Atambua
  • Bajawa
  • Kefamenanu
  • Kupang
  • Labuan Bajo
  • Larantuka
  • Maumere
  • Ruteng
  • Soe
  • Kalabahi
  • Waikabubak
  • Waingapu

Layanan yang Tersedia Selama Libur

Hery menjelaskan bahwa layanan terbatas yang dapat diakses oleh nasabah mencakup setoran dan penarikan simpanan, pembukaan rekening, registrasi e-banking, layanan kartu debit, serta penerimaan negara. Selain itu, nasabah juga dapat mengajukan pengaduan selama periode ini.

BRI juga akan melayani penerimaan setoran penebusan DO BBM/non-BBM dari SPBU dan merchant, layanan pick-up service ASDP, pembukaan rekening klaim asuransi Jasa Raharja, serta layanan Ditjen Imigrasi (VOA). “Kami telah menyiapkan kecukupan likuiditas yang optimal untuk mengantisipasi kebutuhan uang tunai yang meningkat selama periode ini,” tambah Hery.

Akses Digital Selama Libur

Selain layanan di kantor, masyarakat tetap dapat mengakses layanan perbankan BRI melalui berbagai kanal digital dan jaringan layanan. Ini termasuk super aplikasi BRImo, 550 mesin ATM, 533 mesin CRM, serta Agen BRILink yang tersebar di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Khusus untuk perayaan Hari Raya Nyepi, BRI akan melakukan penyesuaian operasional pada layanan mesin. Mesin ATM dan CRM di Bali akan dimatikan secara bertahap mulai Rabu, 18 Maret 2026 pukul 10.00 WITA, dan akan kembali diaktifkan secara bertahap pada Jumat, 20 Maret 2026 pukul 12.00 WITA.

Kesimpulan

Dengan langkah-langkah tersebut, BRI berharap dapat memastikan kenyamanan dan kelancaran transaksi masyarakat selama libur panjang yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan ini. Penyiapan kas yang cukup dan layanan yang tetap berjalan akan memberikan kemudahan bagi nasabah dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka di tengah momen penting tersebut.

Dividen BBNI 2025: Peluang Emas bagi Investor Jumbo dan Negara

Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) diprediksi akan mencairkan dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun untuk tahun buku 2025. Hal ini menjadi kabar menggembirakan bagi sejumlah pemegang saham, terutama bagi investor besar seperti PT Danantara Asset Management (Persero), yang merupakan entitas strategis di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Peluang Dividen Besar bagi Pemegang Saham BBNI

Dengan nilai dividen yang sangat signifikan ini, banyak pemegang saham BBNI berpotensi meraih keuntungan yang besar. PT Danantara, sebagai pemegang mayoritas saham, diharapkan dapat memperoleh bagian terbesar dari total dividen tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan, serta memperkuat posisi Danantara di pasar.

Pentingnya Kinerja Dividen bagi Investor

Dividen merupakan salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai kinerja saham. Pembagian dividen yang besar menandakan bahwa perusahaan memiliki profitabilitas yang baik dan mampu memberikan imbal hasil yang menarik bagi pemegang saham. Dalam konteks BBNI, dividen yang akan dibagikan ini tidak hanya menarik bagi investor lama, tetapi juga dapat menarik minat investor baru yang ingin berinvestasi di sektor perbankan Indonesia.

Dampak terhadap Ekonomi Indonesia

Dalam jangka panjang, pembagian dividen besar seperti ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Ketika investor besar seperti Danantara mendapatkan keuntungan dari dividen, mereka berpotensi untuk menginvestasikan kembali keuntungan tersebut ke dalam proyek-proyek yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Ini juga mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas dan kinerja sektor perbankan di Indonesia.

Kesimpulan

Dengan prospek pembagian dividen tunai yang besar pada tahun 2025, BBNI menunjukkan potensi kinerja yang kuat. Investor, terutama yang memiliki kepentingan di BBNI, harus memanfaatkan kesempatan ini dengan bijak. Keberhasilan dalam pembagian dividen ini tidak hanya akan menguntungkan bagi pemegang saham, tetapi juga dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Strategi Investasi Cerdas Saat Harga Minyak Melonjak Tinggi

JAKARTA — Dalam menghadapi lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik, investor di Indonesia disarankan untuk menerapkan strategi investasi saham yang lebih selektif dan defensif. Hal ini disampaikan oleh Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Sekuritas, yang menggarisbawahi pentingnya pemilihan sektor yang tepat untuk menjaga portofolio tetap aman dan menguntungkan.

Potensi Sektor Energi dan Perbankan

Menurut Andrey, sektor energi dan batu bara berpotensi menjadi pilihan menarik bagi investor. Kenaikan harga komoditas dapat memberikan dukungan yang signifikan terhadap saham-saham di sektor ini. Selain itu, sektor logistik energi juga menjadi sorotan, terutama jika tarif transportasi meningkat.

Bank-bank besar yang memiliki fundamental kuat dan menawarkan dividen yang menarik juga menjadi opsi yang layak untuk dipertimbangkan. “Strategi yang lebih hati-hati adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham dengan fundamental yang solid dan valuasi yang sudah terkoreksi,” jelasnya dalam sebuah wawancara.

Dampak Kenaikan Harga Minyak

Kenaikan harga minyak diperkirakan akan berdampak berbeda pada setiap sektor. Sektor energi dan komoditas cenderung akan diuntungkan karena harga jual yang lebih tinggi dapat meningkatkan pendapatan dan margin perusahaan. Namun, sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya energi dan logistik.

Secara umum, sektor perbankan diperkirakan akan tetap stabil meskipun dapat terpengaruh secara tidak langsung jika inflasi atau perlambatan ekonomi mulai terjadi. “Lonjakan harga minyak dapat menciptakan perbedaan kinerja yang semakin lebar antar sektor di pasar saham,” tambah Andrey.

Proyeksi IHSG dan Faktor Eksternal

Meskipun potensi rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap ada, pergerakan jangka pendek kemungkinan akan dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk perkembangan konflik geopolitik dan fluktuasi harga minyak. Namun, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong solid, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil dan likuiditas yang cukup kuat di dalam negeri.

Andrey juga menyoroti beberapa faktor penting yang menjadi perhatian pelaku pasar, seperti kinerja emiten di kuartal pertama dan kedua tahun 2026, khususnya dari sektor perbankan dan komoditas. Selain itu, musim pembagian dividen dapat meningkatkan daya tarik saham domestik dengan yield yang lebih menarik.

Pentingnya Koordinasi Pasar

Perkembangan koordinasi antara Bursa Efek Indonesia dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta penyedia indeks global lainnya juga perlu dicermati. Hal ini dapat mempengaruhi aliran dana asing dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta bank sentral di seluruh dunia.

“Jika katalis positif ini berkembang, IHSG berpeluang untuk mengalami pemulihan secara bertahap setelah periode koreksi yang cukup signifikan dalam waktu dekat,” tutup Andrey.

Kesimpulan

Dalam menghadapi situasi ketidakpastian global dan lonjakan harga minyak, penting bagi investor untuk merencanakan strategi investasi yang cerdas dan terarah. Dengan fokus pada sektor-sektor yang berpotensi menguntungkan seperti energi dan perbankan, serta memperhatikan faktor eksternal yang dapat memengaruhi pasar, investor dapat mengoptimalkan peluang mereka di pasar saham.

BCA Salurkan Kredit Rp948,95 Triliun per Januari 2026, Naik 6,26%

Jakarta, Bisnis.com – PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengumumkan bahwa penyaluran kreditnya mencapai Rp948,95 triliun per Januari 2026, meningkat 6,26% dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebesar Rp893,02 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan kinerja yang positif dan menjadi salah satu indikator dukungan BCA terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan Kredit BCA Berdasarkan Segmen

Menurut EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, penyaluran kredit dilakukan secara selektif dan hati-hati, mencakup berbagai sektor ekonomi. “Kredit BCA mengalami pertumbuhan 6,3% YoY mencapai Rp949 triliun per Januari 2026,” ungkap Hera dalam keterangannya pada Kamis (5/3/2026).

Dari segmen kredit, Hera menyoroti bahwa kredit usaha tumbuh signifikan sebesar 9,9% YoY, mencapai Rp756,5 triliun per Desember 2025. Hal ini sejalan dengan komitmen BCA untuk mendukung perkembangan dunia usaha di Indonesia.

Penyebaran Kredit ke Berbagai Sektor

Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke sejumlah sektor, meliputi manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan sektor rumah tangga. Hera juga menegaskan bahwa dalam penyaluran kredit, BCA selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang disiplin, sambil mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan debitur berdasarkan aktivitas usaha mereka.

“Kami menargetkan pertumbuhan total kredit di tahun 2026 sebesar 8% hingga 10%,” tambahnya.

Tren Kredit Perbankan di Indonesia

Dari sisi industri perbankan secara keseluruhan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa total kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh sebesar 9,96% YoY menjadi Rp8.557 triliun, naik dari pertumbuhan 9,63% YoY pada Desember 2025. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh kredit dari bank-bank milik negara (BUMN) yang mengalami peningkatan sebesar 13,43% YoY.

Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, rasio Non-Performing Loan (NPL) juga menunjukkan peningkatan, dari 2,05% pada Desember 2025 menjadi 2,14% pada Januari 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kredit tumbuh, perhatian terhadap kualitas aset tetap penting.

Tantangan di Masa Depan

Menurut M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, meskipun pertumbuhan kredit tetap tinggi, kenaikan NPL menunjukkan perlunya manajemen risiko yang hati-hati. “Industri perbankan harus menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas aset untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan inklusif,” katanya.

Rizal menekankan bahwa pertumbuhan kredit tidak hanya harus tinggi dalam nominal, namun juga harus mampu mendukung pemulihan ekonomi yang lebih luas dan inklusif di Indonesia.

Kesimpulan

Dengan pencapaian penyaluran kredit yang signifikan, BCA menunjukkan perannya sebagai salah satu pilar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, tantangan kualitas aset tetap menjadi perhatian utama bagi industri perbankan, yang harus diatasi melalui manajemen risiko yang baik agar pertumbuhan yang dicapai tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan.