Mengapa Orang Kaya Semakin Kaya di Tengah Krisis Ekonomi?

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah terus meningkat pesat, sementara banyak orang di seluruh dunia berjuang menghadapi , , dan krisis . Data menunjukkan bahwa kekayaan yang dimiliki miliarder hampir setara dengan total kekayaan 50% masyarakat terbawah. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan, mengapa orang kaya semakin kaya di tengah tantangan yang dihadapi oleh banyak orang?

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kekayaan miliarder adalah kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan (AI), yang berpotensi memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian global. Meski demikian, ada kekhawatiran yang semakin besar bahwa tidak semua pihak akan mendapatkan manfaat dari kemajuan ini. Sementara para miliarder menikmati keuntungan dari inovasi teknologi, masyarakat umum, terutama kelas menengah, merasakan dampak negatif dari krisis biaya hidup yang semakin parah.

Di negara-negara maju pun, kelas menengah merasa tertekan akibat kenaikan biaya hidup, yang memaksa mereka untuk memotong pengeluaran dan mengurangi standar hidup. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perekonomian global sedang mengalami pertumbuhan, sebagian besar populasi tidak merasakan dampaknya secara langsung, bahkan melawan arus kemajuan yang ada.

Di sisi lain, upaya untuk mengatasi kemiskinan global tampak terhenti. Berbagai program bantuan dan inisiatif untuk mendukung mereka yang paling membutuhkan sering kali menemui kendala, dan hasil yang diharapkan tidak tercapai. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting: apakah orang kaya akan terus mengumpulkan kekayaan mereka sementara yang lainnya tertinggal?

Peningkatan ketimpangan ekonomi ini bukan hanya masalah moral, tetapi juga tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat global. Dengan semakin banyaknya orang yang terjebak dalam kemiskinan, stabilitas sosial dan ekonomi di seluruh dunia menjadi semakin rentan. Oleh karena itu, penting bagi pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah strategis yang dapat membantu mengurangi kesenjangan ini dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, 9 Maret 2026

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini, Senin (9/3/2026), diperkirakan akan mengalami fluktuasi namun cenderung ditutup pada level yang lebih rendah, dalam rentang Rp16.920 hingga Rp17.010 per dolar AS. Prediksi ini mencerminkan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pasar keuangan Indonesia.

Berdasarkan data dari Bloomberg, pada Jumat (6/3/2026), rupiah tercatat melemah sebesar 20 poin atau 0,12% menjadi Rp16.925 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS juga mengalami penurunan sebesar 0,31% menuju level 99,01.

Pergerakan Mata Uang Asia

Mata uang di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yen Jepang mengalami penguatan sebesar 0,04%, sedangkan won Korea Selatan menguat sebesar 0,76%. Sementara itu, rupee India dan ringgit Malaysia masing-masing melemah sebesar 0,09% dan 0,08% terhadap dolar AS.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ini dipicu oleh faktor internal, termasuk keputusan Fitch Ratings yang menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal ini menjadi perhatian pemerintah yang kini berupaya meningkatkan rasio pajak atau tax ratio, yang selama ini berada di kisaran 9% hingga 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Ibrahim menyoroti bahwa tax ratio Indonesia bahkan mengalami penurunan pada tahun lalu, dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025. “Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan Fitch Ratings dalam penilaian mereka,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Selain itu, tingginya belanja sosial pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap 1,3% dari PDB antara 2025 hingga 2029, diangga sebagai faktor penyebab kekhawatiran fiskal yang semakin meningkat.

Faktor Eksternal yang Memengaruhi

Dari sisi eksternal, Ibrahim mengingatkan bahwa pasar global juga harus waspada terhadap eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang telah memasuki hari ketujuh. Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak mentah, yang bisa mengarah pada inflasi global baru.

“Kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi dan akan membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait suku bunga di waktu dekat,” tambah Ibrahim.

Prediksi Pergerakan Rupiah Minggu Ini

Untuk minggu ini, diperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran antara Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS. Hal ini menunjukkan ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar keuangan, baik dari faktor domestik maupun global.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini mencerminkan dampak dari faktor internal dan eksternal yang cukup kompleks. Pelaku pasar perlu tetap waspada mengingat adanya risiko-risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia, terutama dalam konteks belanja sosial dan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.

Tugu Insurance Catat Lonjakan Premi Asuransi Haji-Umrah 100%

Jakarta, Bisnis.com — PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TUGU) melalui unit usaha syariahnya mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan dalam produk asuransi perjalanan t travella syariah selama tahun 2025. Direktur Pemasaran Tugu Insurance, Ery Widiatmoko, menjelaskan bahwa t travella syariah ditujukan khusus untuk melindungi jemaah haji dan umrah.

“Pada tahun 2025, kami mencatat kenaikan pendapatan premi dari t travella syariah hingga 100% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Ery dalam pernyataannya kepada Bisnis, yang dikutip pada Minggu (8/3/2026).

Ery menambahkan, saat ini Tugu Insurance telah memberikan perlindungan kepada hampir 50.000 jemaah dan menjalin kemitraan dengan lebih dari 200 Penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah (PPIU/PPIH) di seluruh Indonesia. Meskipun pertumbuhan ini cukup kuat, kontribusi dari lini asuransi perjalanan terhadap keseluruhan portofolio perusahaan masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan lini bisnis utama lainnya.

“Namun, kami percaya segmen ini memiliki potensi jangka panjang yang strategis,” tambah Ery.

Strategi Meningkatkan Penetrasi Pasar

Untuk mendongkrak penetrasi pasar dan pendapatan dari lini usaha ini, Tugu Insurance menerapkan strategi multisaluran yang memadukan teknologi modern. Ery menjelaskan bahwa perusahaan terus mengembangkan saluran distribusi dan layanan digital, memperkuat saluran distribusi baru, serta menjalin sinergi strategis dengan Asosiasi Travel Haji dan Umrah. Selain itu, produk yang ditawarkan juga terus disesuaikan dengan kebutuhan jemaah.

Risiko yang Dihadapi Jemaah

Ery juga mengungkapkan bahwa risiko dengan beban biaya tertinggi yang sering diklaim adalah risiko medis, sementara risiko ketidaknyamanan perjalanan menjadi yang paling sering terjadi. Risiko medis meliputi kebutuhan rawat inap dan perawatan akibat infeksi saluran pernapasan, kelelahan ekstrem, hingga komplikasi penyakit bawaan yang dipicu oleh cuaca dan aktivitas fisik yang berat.

Di sisi lain, risiko ketidaknyamanan perjalanan, meski nilainya lebih kecil, seringkali mengganggu kenyamanan ibadah. Ery menambahkan bahwa gangguan jadwal, seperti keterlambatan atau pembatalan penerbangan, adalah laporan yang paling sering diterima, diikuti oleh kehilangan atau kerusakan bagasi.

Pentingnya Asuransi Perjalanan

Kombinasi antara kompleksitas risiko medis dan kendala logistik ini menjadikan asuransi perjalanan sebagai instrumen perlindungan yang sangat penting bagi jemaah haji dan umrah di tahun 2026. Tugu Insurance berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan agar jemaah merasa lebih aman dan nyaman selama menjalankan ibadahnya.

Di titik puncaknya, asuransi juga bertanggung jawab atas risiko kematian jemaah di Tanah Suci dengan memberikan santunan bagi ahli waris. Ini menunjukkan betapa krusialnya memiliki perlindungan saat menjalankan ibadah haji dan umrah.

Kesimpulan

Dari peningkatan yang signifikan dalam pendapatan premi asuransi haji-umrah, terlihat bahwa pasar ini memiliki potensi besar di Indonesia. Dengan dukungan strategi pemasaran yang tepat dan pengembangan produk yang relevan, Tugu Insurance siap untuk memberikan perlindungan terbaik bagi jemaah haji dan umrah di masa depan.

Uang Primer Indonesia Tumbuh 18,3%, Tembus Rp2.228 Triliun

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan bahwa uang primer (M0) yang disesuaikan mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 18,3% year on year (yoy) pada bulan Februari 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya tercatat 14,7%. Dengan pertumbuhan yang pesat, total uang primer kini menembus angka Rp2.228 triliun.

Dalam rilis resmi yang dipublikasikan pada Jumat (6/3/2026), BI menjelaskan, “Pada Februari 2026, uang primer tumbuh 18,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan Januari yang hanya 14,7% (yoy), sehingga totalnya mencapai Rp2.228 triliun.” Hal ini menunjukkan adanya peningkatan likuiditas di pasar yang berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pendorong Pertumbuhan Uang Primer

BI menyebutkan bahwa pertumbuhan uang primer ini didorong oleh kenaikan signifikan pada pertumbuhan giro bank umum yang disimpan di BI, yang meningkat sebesar 33,6% (yoy). Selain itu, jumlah uang kartal yang beredar juga mengalami kenaikan mencapai 15,8% (yoy). Kenaikan ini mencerminkan tingginya permintaan masyarakat akan uang tunai dan simpanan yang lebih likuid dalam aktivitas ekonomi.

Tren dan Perbandingan Bulanan

Ketika melihat tren pertumbuhan, uang primer pada bulan Februari 2026 memang menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan bulan Januari 2026. Namun, jika dibandingkan dengan bulan Desember 2025, total uang yang beredar mengalami penurunan signifikan. Pada akhir tahun lalu, jumlah uang primer tercatat mencapai Rp2.367,8 triliun. Hal ini menunjukkan adanya fluktuasi dalam jumlah uang yang beredar di masyarakat, yang perlu dicermati oleh para pelaku ekonomi.

Uang primer sendiri adalah komponen penting dalam peredaran uang, yang mencakup uang kartal berupa kertas dan logam yang beredar di masyarakat serta simpanan giro bank umum yang disimpan di Bank Indonesia. Dengan kata lain, uang primer menjadi indikator likuiditas dan kesehatan ekonomi suatu negara.

Aspek Adjusted dalam Uang Primer

Penting untuk dicatat, uang primer yang disesuaikan (adjusted) mencerminkan perkembangan yang telah memperhitungkan dampak dari penurunan giro bank di BI akibat pemberian insentif likuiditas. Dengan demikian, ini menjadi acuan yang lebih akurat untuk memahami kondisi riil peredaran uang di Indonesia.

Dampak bagi Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan uang primer yang signifikan ini tentu memiliki dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Likuiditas yang meningkat akan memberikan ruang bagi bank untuk memberikan pinjaman lebih banyak kepada masyarakat dan sektor usaha, yang pada gilirannya dapat mendorong investasi dan konsumsi. Ini adalah sinyal baik bagi pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang masih berlangsung.

Namun, perlu diingat bahwa pertumbuhan uang yang cepat juga harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat untuk mencegah inflasi yang tidak terkendali. Kebijakan moneter yang hati-hati dari Bank Indonesia akan sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi ke depan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pertumbuhan uang primer yang mencapai 18,3% pada Februari 2026 menandakan adanya peningkatan likuiditas yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, tantangan untuk menjaga inflasi dan stabilitas ekonomi tetap menjadi perhatian utama. Pengawasan yang ketat dan kebijakan yang tepat akan menjadi kunci dalam mengelola pertumbuhan ini agar tetap berkelanjutan.