Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukkan kecenderungan stabil pada awal tahun 2026 memberikan kesempatan bagi investor untuk mengamati kembali sejumlah saham yang masih dianggap murah atau undervalued. Dalam sektor perbankan, khususnya bank lapis dua, ada tiga emiten yang patut diperhatikan, yaitu BBTN (Bank Tabungan Negara), BDMN (Bank Danamon), dan NISP (Bank Negara Indonesia Syariah).
Potensi Saham BBTN, BDMN, dan NISP
Ke tiga emiten ini dipilih berdasarkan analisis terhadap rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) dan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) yang masih tergolong rendah. Dalam dunia investasi, rasio ini sangat penting untuk menilai apakah suatu saham berada dalam kategori undervalued atau tidak.
Lo Kheng Hong, seorang investor terkenal, mengenalkan istilah ‘Mercy Harga Bajaj’ untuk menggambarkan saham-saham yang memiliki potensi kenaikan harga yang signifikan. Hal ini merujuk pada saham-saham yang saat ini diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya.
Analisis Terhadap Masing-Masing Saham
- BBTN (Bank Tabungan Negara): BBTN dikenal sebagai bank yang fokus pada pembiayaan perumahan. Dengan dukungan pemerintah dalam program perumahan, potensi pertumbuhan BBTN cukup menjanjikan.
- BDMN (Bank Danamon): Meskipun mengalami tekanan, BDMN memiliki strategi bisnis yang adaptif dan terus berinovasi dalam produk dan layanan perbankan. Hal ini membuatnya tetap relevan di pasar.
- NISP (Bank Negara Indonesia Syariah): NISP menawarkan produk perbankan syariah yang semakin diminati oleh masyarakat. Dengan segmen pasar yang terus berkembang, NISP berpotensi mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Dampak Terhadap Investor di Indonesia
Memilih saham bank lapis dua yang undervalued ini menjadi penting bagi investor yang mencari peluang investasi jangka panjang. Dengan kondisi pasar yang stabil, saham-saham ini bisa menjadi pilihan yang menguntungkan untuk portofolio investasi mereka.
Investor di Indonesia perlu memperhatikan perkembangan ekonomi dan kebijakan pemerintah yang mungkin akan mempengaruhi performa saham-saham ini. Sebagai contoh, dukungan pemerintah dalam program perumahan dan pembiayaan bisa menjadi faktor pendorong bagi BBTN, sedangkan inovasi produk akan memberi keuntungan bagi BDMN dan NISP.
Kesimpulan
Dengan melihat potensi dan faktor pendukung yang ada, BBTN, BDMN, dan NISP merupakan saham bank lapis dua yang layak dipertimbangkan oleh investor. Meskipun saat ini diperdagangkan di harga yang relatif rendah, potensi pertumbuhan yang mereka miliki dapat memberikan imbal hasil yang menarik di masa depan.
