Menkeu Purbaya Soroti Dominasi Marketplace Asing di RI

JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keprihatinannya terhadap dominasi platform marketplace asing, khususnya dari China, yang semakin menguat di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikannya usai siaran langsung di TikTok, di mana ia mendengarkan berbagai keluhan masyarakat terkait isu ini.

Purbaya menjelaskan, banyak masyarakat yang merasa bahwa pasar digital di Indonesia dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing. “Saya kemarin live TikTok, sekalian menemani anak saya. Banyak keluhan soal marketplace, katanya dikuasai sana [China] semua,” ujarnya, saat ditemui setelah melaksanakan Salat Id di Masjid Salahuddin, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Dominasi Asing dalam Ekosistem Marketplace

Menurut Purbaya, dominasi asing dalam sektor marketplace berpotensi membuat pasar domestik semakin bergantung pada luar negeri. Ia menyoroti beberapa platform besar yang saat ini dianggap berada di bawah kendali asing, seperti Tokopedia dan TikTok, yang dinilai membawa dampak negatif bagi industri lokal.

“Saya lagi mikir gimana kembalikan marketplace-nya, tidak hanya yang dikuasai China. Digitalisasi seperti ini seperti memberikan pasar ke China,” tegasnya.

Pentingnya Platform Lokal

Dalam upaya mengatasi masalah ini, Purbaya menyatakan bahwa pihaknya sedang mengkaji kemungkinan untuk mendorong lahirnya platform-platform lokal yang dapat bersaing dengan marketplace asing. Tujuannya adalah untuk mengembalikan keseimbangan pasar serta membuka peluang bagi perusahaan domestik untuk tumbuh dan bersaing secara adil.

“Saya lagi mikir, adakah perusahaan domestik yang bisa dihidupkan lagi untuk menjadi kompetisi, bahkan di pasar domestik kita sendiri,” tuturnya.

Dampak bagi Ekonomi Indonesia

Keberadaan marketplace asing yang mendominasi pasar Indonesia dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap ekonomi nasional. Dengan menguatnya platform lokal, diharapkan akan tercipta ekosistem bisnis yang lebih sehat, di mana perusahaan-perusahaan dalam negeri dapat berkompetisi secara fair dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Hal ini juga berpotensi menambah lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian lokal, yang pada gilirannya dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk dan layanan asing. Jika pemerintah berhasil mendorong pertumbuhan platform lokal, maka Indonesia dapat lebih mandiri dalam sektor digital.

Kesimpulan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menunjukkan kepedulian terhadap dominasi marketplace asing di Indonesia dan mengajak untuk memikirkan kembali pengembangan platform lokal. Langkah ini penting untuk menciptakan pasar yang lebih seimbang dan memberikan peluang lebih luas bagi perusahaan domestik. Keberadaan marketplace lokal dapat menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia di era digital yang semakin kompetitif.

BTN Perluas Layanan Perbankan, Tak Hanya KPR

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) kini tengah menggenjot ekspansi bisnisnya dengan menyediakan layanan perbankan yang lebih komprehensif, tidak hanya terbatas pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Direktur Operasional BTN, I Nyoman Sugiri Yasa, menjelaskan bahwa transformasi ini merupakan bagian dari visi perusahaan untuk periode 2025–2029, yaitu menjadi “Mitra Utama dalam Pemberdayaan Finansial Keluarga Indonesia”.

Strategi Ekspansi BTN

Dalam upaya mencapai visi tersebut, BTN melaksanakan sejumlah strategi penting, termasuk memperkuat pendanaan berkelanjutan, meningkatkan proposisi produk, dan mempromosikan layanan perbankan lengkap. Nyoman menegaskan, “Kami akan mengubah citra BTN menjadi bank yang mampu memberikan layanan perbankan menyeluruh, mulai dari pembiayaan, investasi, hingga transaksi keuangan lainnya.”

BTN menyadari bahwa untuk memastikan kelangsungan bisnis, penguatan sumber pendanaan menjadi hal yang krusial. Pendanaan yang kuat bak bahan bakar utama bagi bank dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat. Nyoman menambahkan, “Ketersediaan sumber pendanaan yang stabil sangat penting agar BTN dapat terus menjalankan fungsi intermediasi dan memperluas penyaluran kredit.”

Peningkatan Layanan dan Penawaran Produk

BTN tidak hanya berfokus pada KPR, tetapi juga memperluas tawaran produk finansial lainnya. Misalnya, produk seperti Kredit Ringan (KRING) untuk renovasi rumah, pembiayaan kendaraan, hingga kredit modal kerja. Nyoman menjelaskan, “Ketika nasabah membeli rumah melalui KPR, mereka juga kemungkinan akan membutuhkan produk finansial lainnya. Dengan strategi ini, BTN dapat menawarkan beragam solusi keuangan yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Transformasi Digital dan Modernisasi Cabang

Salah satu langkah signifikan dalam transformasi BTN adalah pembaruan proses pengelolaan kredit menjadi lebih efisien dan cepat melalui sistem ‘loan factory’. Sistem ini berfungsi untuk memusatkan proses pengajuan dan pengolahan kredit konsumen, termasuk KPR. Selain itu, BTN juga melakukan modernisasi jaringan kantor cabang melalui program peremajaan. Pada tahun 2025, BTN membuka 20 kantor cabang baru dan merelokasi 29 cabang untuk meningkatkan layanan kepada nasabah.

Dampak bagi Masyarakat Indonesia

Perubahan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam akses terhadap layanan perbankan yang lebih baik dan lengkap. Dengan perluasan layanan ini, BTN berkomitmen untuk menjadi mitra finansial yang terpercaya bagi keluarga Indonesia, mendukung mereka dalam mencapai tujuan finansial.

Kesimpulan

Dengan transformasi yang sedang dilakukan, BTN tidak hanya sekadar menjadi bank yang fokus pada KPR, tetapi juga berusaha untuk menawarkan layanan perbankan yang lebih holistik. Ini adalah langkah penting untuk meningkatkan pengalaman nasabah dan memberikan solusi keuangan yang lebih baik. Dengan demikian, BTN bertekad untuk menjadi pilar pendukung keuangan bagi masyarakat di Indonesia.

Pembeli Emas Antam Tersenyum Menjelang Lebaran 2026

JAKARTA – Menjelang perayaan Idulfitri 2026, para pembeli emas dari PT Antam Tbk masih dapat merasakan potensi keuntungan meskipun pergerakan harga emas tidak menunjukkan lonjakan yang signifikan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, pembelian emas Antam telah menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Lebaran.

Pergerakan Harga Emas Menjelang Lebaran

Menyusul kondisi pasar yang fluktuatif, harga emas saat ini tidak berhasil mencapai rekor tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, menjelang hari raya Idulfitri, harga emas biasanya mengalami lonjakan akibat tingginya permintaan dari masyarakat yang ingin membeli perhiasan atau menabung dalam bentuk emas.

Data Harga Emas Antam

Data terkini menunjukkan bahwa harga emas Antam masih berada dalam kisaran stabil, meskipun belum mencapai angka tertinggi. Para analis pasar mencatat bahwa meskipun saat ini permintaan emas cukup tinggi, faktor-faktor seperti kondisi ekonomi global dan kebijakan moneter mempengaruhi pergerakan harga emas di dalam negeri.

Dampak Terhadap Pembeli dan Investor

Bagi para pembeli emas, situasi ini memberikan peluang untuk berinvestasi sebelum harga kembali melonjak. Banyak investor yang percaya bahwa emas adalah aset yang aman, terutama di masa ketidakpastian ekonomi. Dengan stabilnya harga, mereka dapat membeli lebih banyak emas tanpa harus khawatir kehilangan nilai investasi dalam jangka pendek.

Pentingnya Emas Sebagai Investasi

  • Pelindung Nilai: Emas cenderung mempertahankan nilainya, bahkan di saat inflasi tinggi.
  • Permintaan Musiman: Permintaan emas meningkat menjelang hari raya, menjadikannya investasi yang menjanjikan.
  • Likuiditas Tinggi: Emas mudah dijual kembali, memberikan fleksibilitas bagi investor.

Konteks Ekonomi Indonesia

Di Indonesia, kehadiran emas sebagai instrumen investasi semakin mendapatkan perhatian, terutama menjelang perayaan besar. Dalam konteks ekonomi yang tidak menentu, masyarakat mulai beralih dari investasi konvensional menuju emas. Masyarakat Indonesia sering kali mencari cara untuk mengamankan aset mereka, dan emas menjadi pilihan yang tepat.

Kesimpulan

Dengan potensi cuan yang masih ada, pembeli emas Antam menjelang Lebaran 2026 memiliki harapan untuk meraih keuntungan. Meskipun harga emas belum menunjukkan lonjakan, stabilitas harga saat ini menawarkan kesempatan bagi investor untuk meningkatkan portofolio mereka. Menyikapi fenomena ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam berinvestasi, terutama dalam aset yang telah terbukti aman seperti emas.

OJK: Revisi Outlook Himbara Dipengaruhi Faktor Eksternal

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi tanggapan terkait revisi outlook negatif terhadap beberapa bank milik negara (BUMN) yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional. OJK menegaskan bahwa penyesuaian tersebut lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan perubahan outlook peringkat sovereign Indonesia, bukan karena adanya kelemahan dalam fundamental kinerja perbankan nasional.

Pernyataan OJK Mengenai Revisi Outlook

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa penyesuaian outlook oleh lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings dan Moody’s mengikuti perubahan outlook peringkat sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif. “Penyesuaian tersebut lebih mencerminkan faktor eksternal dan dinamika makroekonomi global serta keterkaitannya dengan profil sovereign, bukan karena penurunan fundamental kinerja bank-bank tersebut,” ujarnya dalam pernyataan kepada Bisnis, Kamis (12/3/2026).

Bank-Bank BUMN Masih Tampil Stabil

Sebelumnya, Fitch Ratings merevisi prospek peringkat jangka panjang beberapa bank pelat merah menjadi negatif dari stabil. Bank-bank tersebut termasuk dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Meski demikian, Dian menekankan bahwa di tengah ketidakpastian global, bank-bank Himbara tetap menunjukkan kinerja intermediasi yang stabil dan berperan penting dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan program prioritas pemerintah.

Dampak Revisi Outlook terhadap Bank BUMN

OJK menganggap bahwa outlook negatif ini lebih merupakan sinyal kewaspadaan terhadap risiko eksternal dan tekanan fiskal, bukan indikasi langsung adanya tekanan terhadap kesehatan bank. Meskipun terdapat perubahan outlook sovereign, hal ini berpotensi meningkatkan premi risiko yang dapat berdampak pada kenaikan biaya pendanaan secara moderat serta memicu volatilitas jangka pendek pada saham bank BUMN di pasar modal.

Namun, Dian menegaskan bahwa akses pendanaan global bank-bank Himbara tetap terjaga. Hal ini dapat dilihat dari peringkat kredit masing-masing bank yang masih berada pada level investment grade. “Peringkat tersebut menunjukkan keyakinan kuat terhadap kondisi permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, kualitas aset yang terjaga, serta profitabilitas yang tetap resilien,” tambahnya.

Minat Investor pada Bank Himbara

Minat investor global terhadap negara berkembang seperti Indonesia juga dinilai masih cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa prospek pendanaan eksternal bank nasional tetap relatif terjaga. OJK mencatat bahwa fundamental bank Himbara tetap solid hingga akhir 2025, dengan mayoritas bank BUMN mencatatkan pertumbuhan kredit dua digit yang melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan yang hanya mencapai 9,6%.

  • Kredit Bank Mandiri tumbuh 14,13%
  • Kredit BRI tumbuh 10,41%
  • Kredit BNI tumbuh 10,13%
  • Kredit BTN tumbuh 11,90%

Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga masih kuat, terutama pada komponen dana murah atau CASA. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) bank Himbara berada pada kisaran 18% hingga 21%, jauh di atas ketentuan minimum. Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) masih terjaga di bawah 3%.

Prospek Ke Depan

Ke depan, OJK menilai bahwa perubahan outlook tersebut masih bersifat reversible atau dapat kembali membaik seiring perbaikan prospek ekonomi global dan domestik serta penguatan indikator fiskal Indonesia. Dengan demikian, OJK optimis bahwa fundamental bank Himbara akan terus berlanjut dan berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

Realisasi Utang Februari 2026 Turun 25,8%, Minat Investor Menipis

Jakarta, Bisnis.com — Pemerintah Indonesia mencatat realisasi pembiayaan utang mencapai Rp185,3 triliun hingga 28 Februari 2026. Angka ini setara dengan 22,3% dari target yang telah ditetapkan sebesar Rp832,2 triliun untuk tahun ini. Sayangnya, realisasi ini mengalami penurunan signifikan sebesar 25,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana realisasi utang tercatat sebesar Rp249,9 triliun.

Pantauan Terhadap Pasar Keuangan

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau kondisi pasar keuangan dalam pelaksanaan pembiayaan utang. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk konflik geopolitik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang mungkin memengaruhi pasar keuangan global.

“Strategi pembiayaan kami lakukan secara antisipatif untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai dan menjaga fleksibilitas dalam menghadapi dinamika pasar,” ungkap Juda dalam konferensi pers APBN Kita yang diadakan pada Rabu (11/3/2026).

Pendanaan Melalui Surat Berharga Negara

Juda menjelaskan bahwa mayoritas pembiayaan utang berasal dari pendanaan pasar surat berharga negara (SBN). Ia mengklaim bahwa kondisi pasar SBN masih dalam keadaan cukup baik. Rata-rata bid to cover ratio untuk lima penerbitan surat utang negara (SUN) di tahun ini tercatat sebesar 2 kali terhadap target lelang, meskipun turun dari tahun lalu yang berada di level 2,3 kali. Sementara itu, untuk empat penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN), rata-rata bid to cover ratio meningkat menjadi 3,1 kali dari 2 kali tahun lalu.

“Hal ini menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga meskipun ada ketidakpastian di pasar keuangan global,” tambahnya.

Dampak Penurunan Realisasi Utang

Penurunan realisasi utang sebesar 25,8% ini tentu memberikan dampak terhadap defisit anggaran negara. Sebagai informasi, pada bulan Februari 2026, defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) telah mencapai Rp135,7 triliun, yang mengalami lonjakan sebesar 342,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam pengelolaan keuangan negara di tengah kondisi perekonomian yang fluktuatif.

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini juga menegaskan bahwa pemenuhan pembiayaan utang tetap sesuai target, dengan tetap memperhatikan cost of fund yang efisien serta mitigasi risiko dan tata kelola yang baik. Meski demikian, pembiayaan utang sebesar Rp185,3 triliun pada akhir Februari 2026 menurun 26% jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu.

Kesimpulan

Dengan realisasi utang yang menurun, pemerintah harus berupaya lebih keras dalam menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan investor. Kondisi ini menuntut adanya strategi yang lebih matang untuk mengelola anggaran dan memastikan keseimbangan antara pendapatan dan belanja negara. Seiring dengan perkembangan kondisi global yang tidak menentu, kebijakan-kebijakan yang adaptif dan responsif akan sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan perekonomian nasional.

Purbaya: Hati-Hati Rombak APBN di Tengah Gejolak Ekonomi

JAKARTA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pemerintah harus berhati-hati dalam merombak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah lonjakan harga minyak dan penurunan nilai tukar rupiah. Pernyataan ini disampaikan Purbaya setelah dirinya dipanggil oleh Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (10/3/2026) di Istana Negara.

Purbaya menyebutkan bahwa pemanggilan tersebut bertujuan untuk membahas langkah-langkah antisipatif terkait dampak dari kondisi geopolitik global yang tengah berlangsung. Ia menggarisbawahi bahwa selama fondasi ekonomi negara tetap baik, pemerintah akan lebih mudah mengatasi dampak yang timbul dari gejolak geopolitik.

“Pemerintah berkomitmen untuk memastikan likuiditas uang di sistem tetap cukup, dan Bank Indonesia (BI) akan tetap menjaga kebijakan moneternya,” tegas Purbaya. Ia juga menambahkan bahwa subsidi bahan bakar minyak (BBM) saat ini masih dalam kondisi aman meskipun harga minyak telah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir.

“Kenaikan harga minyak baru terjadi beberapa hari, jadi kami rasa belum saatnya untuk melakukan perubahan anggaran,” lanjutnya. Ia menjelaskan bahwa pemerintah memerlukan waktu untuk menganalisis dampak dari fluktuasi harga minyak dan pergerakan nilai tukar rupiah sebelum mengambil keputusan terkait perombakan APBN.

“Kami harus lebih hati-hati dalam merespons APBN dibandingkan dengan respons terhadap harga saham. APBN menjadi pedoman bagi arah kebijakan pemerintah selama satu tahun ke depan,” tambah Purbaya.

Ia menekankan pentingnya memastikan arah fluktuasi harga minyak dan nilai tukar rupiah sebelum memutuskan langkah-langkah selanjutnya. “Setelah arah pergerakan harga sudah jelas, baru kami bisa mengantisipasi dan menentukan berapa harga yang akan digunakan,” kata Purbaya.

Purbaya juga mengungkapkan bahwa akan ada evaluasi lebih lanjut setelah melihat perkembangan selama sebulan ke depan sebelum mempertimbangkan perubahan pada APBN Perubahan (APBN-P) 2026.

Sementara itu, pada Senin (9/3/2026), harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga 23,9% menjadi US$116,1 per barel, yang merupakan reaksi pasar terhadap ketegangan geopolitik. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau melemah, menembus batas psikologis Rp17.000 per dolar AS pada saat yang sama.

Dampak untuk Indonesia

Gejolak harga minyak dan nilai tukar yang tidak stabil dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi dan mempengaruhi daya beli masyarakat. Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memicu biaya impor yang lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi berbagai sektor, termasuk transportasi dan makanan.

Pemerintah perlu merespons dengan kebijakan yang tepat agar dampak negatif ini dapat diminimalisir. Dalam konteks ini, komunikasi yang jelas dan transparan kepada publik juga sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

Kesimpulan

Purbaya Yudhi Sadewa menekankan perlunya kehati-hatian dalam merombak APBN di tengah kondisi yang tidak menentu ini. Dengan menganalisis secara cermat dampak dari fluktuasi harga minyak dan nilai tukar, diharapkan pemerintah dapat mengambil keputusan yang bijak demi stabilitas ekonomi Indonesia.

Strategi Investasi Cerdas Saat Harga Minyak Melonjak Tinggi

JAKARTA — Dalam menghadapi lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik, investor di Indonesia disarankan untuk menerapkan strategi investasi saham yang lebih selektif dan defensif. Hal ini disampaikan oleh Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Sekuritas, yang menggarisbawahi pentingnya pemilihan sektor yang tepat untuk menjaga portofolio tetap aman dan menguntungkan.

Potensi Sektor Energi dan Perbankan

Menurut Andrey, sektor energi dan batu bara berpotensi menjadi pilihan menarik bagi investor. Kenaikan harga komoditas dapat memberikan dukungan yang signifikan terhadap saham-saham di sektor ini. Selain itu, sektor logistik energi juga menjadi sorotan, terutama jika tarif transportasi meningkat.

Bank-bank besar yang memiliki fundamental kuat dan menawarkan dividen yang menarik juga menjadi opsi yang layak untuk dipertimbangkan. “Strategi yang lebih hati-hati adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham dengan fundamental yang solid dan valuasi yang sudah terkoreksi,” jelasnya dalam sebuah wawancara.

Dampak Kenaikan Harga Minyak

Kenaikan harga minyak diperkirakan akan berdampak berbeda pada setiap sektor. Sektor energi dan komoditas cenderung akan diuntungkan karena harga jual yang lebih tinggi dapat meningkatkan pendapatan dan margin perusahaan. Namun, sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya energi dan logistik.

Secara umum, sektor perbankan diperkirakan akan tetap stabil meskipun dapat terpengaruh secara tidak langsung jika inflasi atau perlambatan ekonomi mulai terjadi. “Lonjakan harga minyak dapat menciptakan perbedaan kinerja yang semakin lebar antar sektor di pasar saham,” tambah Andrey.

Proyeksi IHSG dan Faktor Eksternal

Meskipun potensi rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap ada, pergerakan jangka pendek kemungkinan akan dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk perkembangan konflik geopolitik dan fluktuasi harga minyak. Namun, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong solid, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil dan likuiditas yang cukup kuat di dalam negeri.

Andrey juga menyoroti beberapa faktor penting yang menjadi perhatian pelaku pasar, seperti kinerja emiten di kuartal pertama dan kedua tahun 2026, khususnya dari sektor perbankan dan komoditas. Selain itu, musim pembagian dividen dapat meningkatkan daya tarik saham domestik dengan yield yang lebih menarik.

Pentingnya Koordinasi Pasar

Perkembangan koordinasi antara Bursa Efek Indonesia dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta penyedia indeks global lainnya juga perlu dicermati. Hal ini dapat mempengaruhi aliran dana asing dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta bank sentral di seluruh dunia.

“Jika katalis positif ini berkembang, IHSG berpeluang untuk mengalami pemulihan secara bertahap setelah periode koreksi yang cukup signifikan dalam waktu dekat,” tutup Andrey.

Kesimpulan

Dalam menghadapi situasi ketidakpastian global dan lonjakan harga minyak, penting bagi investor untuk merencanakan strategi investasi yang cerdas dan terarah. Dengan fokus pada sektor-sektor yang berpotensi menguntungkan seperti energi dan perbankan, serta memperhatikan faktor eksternal yang dapat memengaruhi pasar, investor dapat mengoptimalkan peluang mereka di pasar saham.

Calon Emiten Aset Jumbo Siap Melantai di BEI 2026

JAKARTA — Era demutualisasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi momentum penting bagi calon emiten dengan aset besar untuk segera melakukan pencatatan saham perdana atau IPO. Hingga 6 Maret 2026, setidaknya terdapat tujuh perusahaan yang siap melantai di bursa, menunjukkan semangat dan kepercayaan tinggi di pasar modal.

Pentingnya IPO di Era Demutualisasi

Demutualisasi merupakan langkah strategis dalam meningkatkan daya saing BEI, memberikan kesempatan kepada lebih banyak perusahaan untuk mengakses pasar modal. Dengan demutualisasi, BEI bertransformasi dari organisasi yang dimiliki oleh anggota menjadi entitas yang dapat memperluas basis pemegang sahamnya. Ini memberi ruang bagi perusahaan-perusahaan untuk mencari dana dari publik, yang sangat penting untuk ekspansi dan inovasi.

Calon Emiten dan Aset Jumbo

Dalam konteks ini, tujuh perusahaan yang telah mendaftar untuk melakukan IPO merupakan pemain penting di berbagai sektor industri, termasuk teknologi, energi, dan infrastruktur. Masing-masing perusahaan ini memiliki aset yang cukup besar, yang diharapkan dapat menarik minat investor baik lokal maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kepercayaan untuk beroperasi dan tumbuh di pasar yang lebih luas.

Dampak bagi Pasar Modal Indonesia

Keberadaan calon emiten aset jumbo ini tidak hanya akan memperkaya variasi produk investasi di pasar, tetapi juga akan meningkatkan likuiditas dan daya tarik pasar modal Indonesia. Selain itu, dengan adanya IPO, perusahaan-perusahaan ini dapat memperoleh modal yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek-proyek besar yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, tantangan juga akan dihadapi. Persaingan yang ketat di pasar modal global dan fluktuasi ekonomi dapat mempengaruhi keputusan investor. Oleh karena itu, penting bagi calon emiten untuk melakukan persiapan yang matang dan menyusun strategi yang tepat agar dapat menarik perhatian investor dan mencapai tujuan pendanaan mereka.

Kesimpulan

Dengan adanya tujuh calon emiten aset jumbo yang bersiap untuk melakukan IPO, BEI menunjukkan potensi yang kuat untuk berkembang di era demutualisasi. Ini adalah langkah positif bagi perekonomian Indonesia, yang akan memberikan banyak peluang baru bagi investasi dan pertumbuhan bisnis. Para pelaku pasar dan investor diharapkan untuk memantau perkembangan ini dengan seksama, karena keberhasilan IPO ini akan menentukan arah investasi di masa mendatang.

20 Emisi Obligasi di BEI, Sektor Keuangan Terus Mendominasi

Jakarta, Bisnis.com — Minat perusahaan untuk mengumpulkan dana melalui pasar obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tampak stabil di awal tahun 2026. Hingga 6 Maret 2026, tercatat sebanyak 20 emisi obligasi dari 13 perusahaan yang siap untuk diterbitkan, yang dikenal sebagai pipeline penerbitan obligasi di BEI.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa pada 6 Maret 2026 terdapat 20 emisi dari 13 penerbit yang sedang dalam proses penerbitan. Ia menyatakan, “Sampai dengan 06 Maret 2026, terdapat 20 emisi dari 13 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline.” Ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia terus berupaya memanfaatkan pasar obligasi sebagai sumber pendanaan.

Rincian Emisi Berdasarkan Sektor

Rencana penerbitan obligasi ini berasal dari berbagai sektor industri, dengan sektor keuangan mendominasi. Dari total perusahaan yang terdaftar dalam pipeline, sebanyak lima perusahaan berasal dari sektor keuangan. Selain itu, dua perusahaan masing-masing berasal dari sektor energi dan industri, serta dua lainnya dari sektor infrastruktur.

Sektor lain yang terlibat adalah satu perusahaan dari sektor bahan baku dan satu dari sektor barang konsumsi primer. Menariknya, beberapa sektor lainnya seperti consumer cyclicals, kesehatan, properti dan real estat, teknologi, serta transportasi dan logistik, hingga saat ini belum memiliki perusahaan yang memproses penerbitan obligasi di BEI.

Aktivitas Pasar Obligasi di 2026

Nyoman menambahkan, aktivitas di pasar obligasi korporasi sepanjang tahun 2026 ini tetap cukup aktif. Hingga awal Maret 2026, telah diterbitkan 37 emisi obligasi dan sukuk dari 26 penerbit EBUS. Total dana yang berhasil dihimpun dari penerbitan ini mencapai Rp41,41 triliun.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar obligasi masih menjadi pilihan menarik bagi perusahaan-perusahaan dalam mencari sumber pendanaan. Dengan tingkat suku bunga yang relatif stabil, penerbitan obligasi menjadi salah satu alternatif yang menguntungkan,” jelasnya.

Dampak Terhadap Perekonomian Indonesia

Minat untuk menerbitkan obligasi di BEI menjadi indikator positif bagi perekonomian Indonesia. Dengan banyaknya perusahaan yang aktif mencari dana di pasar ini, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan investasi dan menciptakan lapangan kerja baru. Terlebih lagi, sektor keuangan yang dominan dalam penerbitan obligasi dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas sistem keuangan nasional.

Namun, perlu diingat bahwa meski pasar obligasi menunjukkan pertumbuhan, kehadiran sektor-sektor lainnya yang belum aktif dalam penerbitan juga perlu diperhatikan. Pengembangan sektor-sektor ini sangat penting untuk menciptakan keseimbangan dalam perekonomian dan mendorong diversifikasi sumber pendanaan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Kesimpulan

Pada awal tahun 2026, pasar obligasi di BEI menunjukkan kinerja yang baik dengan adanya 20 emisi dari 13 perusahaan. Sektor keuangan menjadi yang terdepan dalam hal penerbitan, diikuti oleh sektor energi dan infrastruktur. Aktivitas yang tinggi di pasar obligasi dapat berdampak positif bagi perekonomian Indonesia, namun perhatian juga perlu diberikan pada sektor-sektor lain yang belum berpartisipasi dalam penerbitan ini.

BSI Catat 22,5 Ton Emas dalam Setahun Layanan Bullion Bank

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BSI) telah mencapai tonggak sejarah dalam pengelolaan emas, mencatat total kelolaan emas mencapai 22,5 ton hanya dalam satu tahun sejak peluncuran layanan bullion bank pada 26 Februari 2025. Layanan ini merupakan bagian dari inisiatif strategis pemerintah untuk memperkuat pengelolaan emas di Indonesia.

Peluncuran layanan bullion bank dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dan diizinkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk BSI dan Pegadaian. Dalam pernyataannya, Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menekankan bahwa kehadiran bullion bank merupakan langkah penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Indonesia.

Pentingnya Layanan Bullion Bank

Anggoro menuturkan bahwa layanan bullion bank tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap kepemilikan emas, tetapi juga mendorong pemanfaatan emas dalam sistem keuangan yang lebih produktif dan inklusif. “Kami ingin menjadikan emas tidak hanya sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga bagian dari sistem keuangan yang produktif dan inklusif,” ujarnya.

Karakteristik inklusif dan kemudahan akses digital dari layanan bullion bank membuat investasi emas semakin terjangkau, terutama untuk generasi muda. Data menunjukkan bahwa proporsi nasabah emas dari kalangan generasi Z meningkat dari 24% menjadi 32%. Secara keseluruhan, jumlah nasabah BSI meningkat lebih dari 2 juta menjadi lebih dari 23 juta nasabah, angka tertinggi sejak penggabungan bank syariah nasional pada 2021.

Pertumbuhan Nasabah dan Kontribusi Terhadap Pendapatan

Dalam satu tahun, BSI mencatat peningkatan jumlah nasabah bullion bank lebih dari 400%. Layanan ini melengkapi produk emas lainnya yang ditawarkan oleh BSI, seperti cicil emas dan gadai emas, sehingga menciptakan ekosistem emas terintegrasi yang mencakup perdagangan emas, simpanan emas, dan produk BSI Gold.

Anggoro memastikan bahwa seluruh transaksi emas BSI dilakukan sesuai dengan prinsip syariah, dengan memastikan setiap transaksi memiliki underlying berupa emas fisik. “Kami tidak diperbolehkan menjual barang yang belum dimiliki. Oleh karena itu, semua transaksi emas di BSI dijamin memiliki underlying berupa emas fisik yang tersimpan di vault kami,” jelasnya.

Dampak Positif bagi Pertumbuhan BSI

Keberadaan layanan bullion bank juga memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan berbasis biaya BSI, mendukung pertumbuhan kinerja yang solid pada tahun 2025. Pada Desember 2025, aset BSI tercatat mencapai Rp456 triliun, tumbuh 11,64% dibandingkan tahun sebelumnya. Pembiayaan meningkat 14,49% dengan kualitas terjaga, dan dana pihak ketiga tumbuh 16,20% menjadi Rp380 triliun.

BSI optimis bahwa transformasi perusahaan menjadi perusahaan persero yang berada di bawah Danantara akan membuka peluang optimalisasi bisnis bullion bank sebagai mesin pertumbuhan baru. Di tengah dinamika ekonomi global, minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat, mengingat karakteristiknya sebagai instrumen safe haven yang semakin mudah diakses melalui kanal digital perbankan.

Komitmen untuk Masa Depan

Ke depan, BSI berkomitmen untuk memperkuat inovasi dalam layanan bullion bank, memperluas literasi investasi emas syariah, serta meningkatkan kolaborasi dengan regulator dan pelaku industri untuk memperkuat ekosistem bank emas nasional. Selain itu, BSI juga berencana untuk memperluas pemanfaatan emas dalam perencanaan keuangan nasabah, termasuk untuk persiapan ibadah haji, kepemilikan rumah, dan tujuan finansial lainnya.

Dengan langkah-langkah ini, BSI berharap dapat terus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian syariah di Indonesia dan meningkatkan akses masyarakat terhadap investasi emas yang aman dan menguntungkan.