Gubernur Luthfi Resmi Lantik Direksi Baru Bank Jateng

SEMARANG – Bank Jateng mencatatkan momen penting dalam sejarah operasionalnya dengan pelantikan jajaran pengurus baru yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, pada Kamis (5/3/2026). Pelantikan tersebut berlangsung di Kantor Pusat Bank Jateng dan menandai langkah baru bagi bank milik pemerintah daerah ini dalam menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.

Susunan Jajaran Direksi Baru

Dalam pelantikan kali ini, posisi Direktur Utama dijabat oleh Bambang Widyatmoko, menggantikan Irianto Harko Saputro yang telah berhasil membawa Bank Jateng mencapai target-target strategis tahun 2025. Selain itu, Adnas ditunjuk sebagai Komisaris Utama Independen, didampingi oleh Darsono dan Sumarno sebagai Komisaris.

Direksi Bank Jateng juga kini diisi oleh profesional yang berpengalaman dalam bidangnya, antara lain Mas Waris sebagai Direktur Bisnis Kelembagaan dan UUS, Bambang Ristianto sebagai Direktur Keuangan, Eko Tri Prasetyo sebagai Direktur Digital dan Bisnis Konsumer, Anna Kusumarita sebagai Direktur Bisnis Dana, Jasa, dan UMKM, serta Erik Abibon sebagai Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko. Penunjukan Dr. H. Tafsir, M.Ag dan Dr. H. Nur Fatoni, M.Ag sebagai Dewan Pengawas Syariah juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat aspek syariah di bank ini.

Pencapaian dan Tren Positif Bank Jateng

Pelantikan tersebut berlangsung di tengah tren positif yang ditunjukkan oleh Bank Jateng. Berdasarkan laporan tahun buku 2025, bank ini berhasil mencapai jumlah aset sebesar Rp100,07 triliun, meningkat 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian ini tidak hanya menunjukkan stabilitas finansial, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pasar terhadap institusi perbankan daerah.

Dalam arahannya, Gubernur Luthfi memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Bank Jateng. Ia menekankan bahwa kesehatan bank saat ini berada pada tingkat yang sangat baik, dan pencapaian aset di atas Rp100 triliun menunjukkan bahwa fungsi intermediasi bank di Jawa Tengah berjalan efektif dan transparan. “Bank Jateng menjadi salah satu bank yang tersehat, ekspansi bisnis juga terus berkembang, dan kepercayaan masyarakat semakin meningkat,” ungkap Luthfi.

Indikator Keberhasilan Lainnya

Selain pertumbuhan aset yang signifikan, indikator profitabilitas juga menunjukkan tren positif. Laba bersih Bank Jateng tercatat mencapai Rp1,42 triliun, meningkat sebesar 11,57% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan laba ini mencerminkan efisiensi operasional serta keberhasilan strategi penyaluran kredit yang telah diterapkan oleh manajemen sebelumnya.

Dari sisi penghimpunan dana, kepercayaan masyarakat tercermin dari pencapaian Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp80,54 triliun, memberikan ruang likuiditas yang cukup untuk mendukung pembangunan daerah melalui penyaluran kredit. Realisasi penyaluran kredit Bank Jateng hingga akhir periode laporan terakhir mencapai Rp64,21 triliun.

Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Gubernur Luthfi mengingatkan bahwa pencapaian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari ekspansi yang lebih luas. Stabilitas ekonomi daerah sangat bergantung pada kekuatan bank pembangunan daerah dalam menggerakkan sektor UMKM dan proyek-proyek strategis. “Pencapaian aset melampaui Rp100,07 triliun ini adalah bukti bahwa kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan fungsi intermediasi bank berjalan dengan sangat baik,” tutup Luthfi.

Industri Kosmetik Indonesia Optimis Keuntungan Melalui Standar Halal

Jakarta – Industri kosmetik di Indonesia berada dalam fase pertumbuhan yang positif, bahkan di tengah tantangan ekonomi global. Sancoyo Antarikso, Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), mengungkapkan bahwa pasar kecantikan dan perawatan pribadi di dalam negeri telah melampaui nilai lebih dari USD 10 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh populasi yang besar, kelas menengah yang terus berkembang, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perawatan diri.

“Dengan nilai pasar yang telah menembus USD 10 miliar, Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai pasar konsumsi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai basis produksi kosmetik,” jelas Sancoyo.

Peluang Strategis Kosmetik Halal

Dalam konteks ini, kosmetik halal muncul sebagai peluang yang signifikan. Menurut Sancoyo, selain memenuhi kebutuhan pasar domestik yang mayoritas beragama Islam, standar halal juga semakin diterima secara global. Hal ini menjadi bagian dari gaya hidup yang menekankan pada keamanan, transparansi, etika, dan keberlanjutan.

“Ini tentunya akan membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produsen kosmetik Indonesia,” tambahnya.

Transformasi Regulasi Halal

Namun, PERKOSMI menekankan bahwa penerapan standar halal tidak semata-mata soal sertifikasi di hilir. Ini merupakan sebuah transformasi regulasi yang mendasar. Kesiapan ekosistem halal yang menyeluruh menjadi faktor kunci, mulai dari rantai pasokan bahan baku, ketersediaan lembaga pemeriksa halal, hingga sistem sertifikasi yang efisien.

“Tanpa dukungan ekosistem yang baik, kewajiban halal berisiko menambah beban bagi para pelaku usaha,” ungkapnya.

Dalam hal kesiapan industri, PERKOSMI mencatat bahwa perusahaan besar lebih siap karena sudah memiliki sistem mutu dan dokumentasi yang solid. Di sisi lain, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menunjukkan komitmen yang tinggi, tetapi masih menghadapi berbagai tantangan seperti akses bahan baku halal, kapasitas administratif, biaya sertifikasi, serta ketergantungan pada impor.

Tantangan dalam Rantai Pasokan

Saat ini, sebagian besar pelaku utama di pasar kosmetik Indonesia telah tersertifikasi halal, namun tingkat sertifikasi di kalangan UMKM masih menjadi pekerjaan rumah. Berbagai tantangan yang dihadapi mulai dari kompleksitas rantai pasokan, di mana satu produk dapat terdiri dari puluhan jenis bahan baku, dan sebagian masih harus diimpor.

“Karena itu, kami menilai bahwa implementasi kewajiban halal perlu dilakukan secara bertahap dan proporsional, disertai dengan pendampingan intensif,” tegas Sancoyo.

Kolaborasi untuk Mendorong Standar Halal

Ke depan, standar halal yang konsisten diharapkan tidak hanya akan melindungi konsumen, tetapi juga menciptakan kesempatan yang adil bagi semua pelaku usaha dan mendorong industri kosmetik Indonesia untuk naik kelas, baik di pasar domestik maupun global.

Sebagai asosiasi industri, PERKOSMI mengambil langkah aktif melalui pembentukan Gugus Tugas Halal yang bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan nasional. Upaya ini dilakukan melalui edukasi berkelanjutan, pelatihan, sosialisasi, dan klinik halal bagi anggota. Mereka juga melakukan advokasi kepada regulator agar regulasi yang dihasilkan dapat diimplementasikan dengan baik.

PERKOSMI juga berkolaborasi dengan Kementerian Perindustrian untuk mengidentifikasi dan mendampingi industri kecil dan menengah (IKM) kosmetik yang membutuhkan fasilitasi sertifikasi halal. Harapannya, kewajiban ini dapat menjadi momentum untuk transformasi dan penguatan industri kosmetik Indonesia secara berkelanjutan.

Potensi Keuntungan Emiten Batu Bara di Tengah Konflik Iran-AS

JAKARTA — Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berpotensi membawa berkah bagi emiten sektor batu bara di Indonesia. Harga komoditas yang sering disebut sebagai ’emas hitam’ ini diyakini akan mengalami lonjakan dalam waktu dekat, seiring dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Analisis Situasi Terkini

Sukarno Alatas, Senior Research Analyst dari Kiwoom Sekuritas, menyatakan bahwa ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap pasokan energi global, khususnya pasokan gas alam cair (LNG). Gangguan pasokan ini berpotensi mendorong harga energi, termasuk batu bara, ke level yang lebih tinggi.

Dampak Terhadap Emiten Batu Bara

Perusahaan-perusahaan seperti PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) diperkirakan akan merasakan dampak positif dari kondisi ini. Dengan meningkatnya permintaan dan harga batu bara di pasar global, emiten-emiten ini dapat menikmati peningkatan pendapatan yang signifikan.

Faktor Pendorong Harga Batu Bara

  • Peningkatan Permintaan Energi: Ketegangan politik seringkali menyebabkan lonjakan permintaan energi sebagai langkah pencegahan.
  • Pengurangan Pasokan LNG: Gangguan pasokan LNG dari Timur Tengah akibat konflik dapat memaksa negara-negara untuk beralih ke batu bara sebagai alternatif.
  • Kebijakan Energi Global: Banyak negara yang berupaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dari satu sumber, yang bisa meningkatkan penggunaan batu bara.

Konteks Pasar Indonesia

Di Indonesia, sektor batu bara merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian. Dengan cadangan yang melimpah, negara ini menjadi salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Jika harga batu bara global mengalami kenaikan, hal ini tidak hanya berdampak pada keuntungan perusahaan, tetapi juga pada pendapatan negara melalui pajak dan royalti.

Kesimpulan

Konflik yang sedang berlangsung antara Iran, AS, dan Israel memberikan sinyal positif bagi emiten batu bara di Indonesia. Meskipun ketegangan geopolitik selalu membawa risiko, namun dalam kasus ini, ada peluang besar bagi perusahaan-perusahaan ini untuk tumbuh dan beradaptasi dengan perubahan pasar. Investor disarankan untuk memantau perkembangan ini dengan seksama, karena harga batu bara yang meningkat bisa menjadi keuntungan jangka panjang.

Prediksi Lonjakan Arus Logistik Jelang Lebaran 2026 di Indonesia

Surabaya – Jelang Lebaran 2026, arus logistik nasional diprediksi akan mengalami peningkatan yang signifikan. Wilayah dengan aktivitas pengiriman barang yang diperkirakan melonjak adalah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Para pelaku usaha logistik dan pemangku kepentingan terkait telah menyiapkan berbagai strategi untuk memastikan kelancaran arus logistik menjelang hari raya besar tersebut.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jatim, Sebastian Wibisono, menjelaskan bahwa lonjakan arus logistik jelang Lebaran adalah hal yang tidak terhindarkan. Diperkirakan, volume arus logistik akan meningkat hingga 80%, mengingat Surabaya berfungsi sebagai jalur transit utama menuju wilayah Indonesia Timur. Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak diprediksi akan normal kembali setelah bulan April.

“Kondisi ini diperparah oleh bersamaan dengan momen Nataru, Imlek, dan Idulfitri, yang membuat beban pengiriman sangat tinggi. Saat Imlek, banyak barang impor yang masuk dan didistribusikan ke berbagai daerah seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan,” kata Wibi.

Untuk mengantisipasi penumpukan barang, ALFI Jatim telah menerapkan strategi pengalihan lokasi penyimpanan. Wibi menambahkan bahwa gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor akan dimanfaatkan untuk menampung barang impor untuk sementara waktu.

“Kebijakan ini telah disetujui setelah koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk memastikan arus logistik tetap lancar. Lonjakan arus logistik tahun lalu mencapai 103%, namun dapat diantisipasi dengan memindahkan kontainer ke storage domestik dan depo yang beroperasi 24 jam,” jelasnya.

Wibi melanjutkan, setiap tahun selalu terjadi migrasi antar terminal, terutama untuk kontainer ekspor-impor, di mana ada dua terminal utama di Surabaya: Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya.

Di sisi lain, Ketua ALFI Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko, mengungkapkan bahwa volume kargo jelang Lebaran 2026 telah meningkat hingga 130%. Di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, kenaikan ini membuat rotasi kontainer meningkat dari rata-rata 2.800 unit per hari menjadi 3.000 unit.

Tren pertumbuhan aktivitas logistik di Jateng juga didorong oleh meningkatnya investasi industri, seperti di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang berkontribusi pada peningkatan throughput di Pelabuhan Tanjung Emas.

“Pada tahun 2023, diperkirakan sekitar 700.000 TEUs, meningkat menjadi 800.000 TEUs pada 2024, dan pada 2025 diprediksi sudah mencapai 1 juta TEUs. Angka ini cukup signifikan, meskipun baru sekitar 20% perusahaan di kawasan industri yang sudah berproduksi,” papar Teguh.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi, menambahkan bahwa peningkatan aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Emas mencerminkan membaiknya perekonomian regional. Volume bongkar muat diperkirakan naik sekitar 20% dibandingkan hari biasa. Apindo Jateng memprediksi bahwa sekitar 10 hari sebelum Lebaran, lonjakan aktivitas bongkar muat akan mencapai sekitar 25%.

“Sejak bulan Desember, kami sudah melihat peningkatan aktivitas bongkar muat di pelabuhan. Ini akan terus meningkat menjelang Lebaran, dengan kenaikan sekitar 25% dibandingkan hari biasa,” ungkap Frans.

Komoditas yang mendominasi peningkatan arus barang antara lain adalah kebutuhan konsumsi musiman seperti bahan pangan, produk fesyen, dan pernak-pernik Lebaran. Peningkatan ini diyakini akan memberikan dampak positif bagi UMKM dan perekonomian lokal.

Inflasi Yogyakarta Februari 2026 Sama dengan Inflasi Nasional

Yogyakarta, Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) D.I. Yogyakarta mengumumkan bahwa inflasi di Yogyakarta mencapai 4,91% (year on year) pada Februari 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,50. Secara bulanan, inflasi Yogyakarta juga mencatat angka 0,68% (month to month) pada periode yang sama.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS D.I. Yogyakarta, Endang Tri Wahyuningsih, mengindikasikan bahwa laju inflasi bulanan di Yogyakarta sejajar dengan tingkat inflasi nasional. Namun, laju inflasi tahunan menunjukkan angka yang cukup tinggi.

“Tingkat inflasi tahunan menunjukkan angka yang signifikan, baik di Yogyakarta maupun nasional, ini disebabkan oleh efek basis yang rendah,” ujar Endang saat konferensi pers pada Kamis (5/3/2026).

Penyebab Inflasi di Yogyakarta

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan di Yogyakarta berasal dari kategori perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang memberikan andil inflasi sebesar 2,42%. Diikuti oleh perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,42%, serta makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan kontribusi sebesar 0,71%.

“Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan, terutama tarif listrik yang pada tahun 2026 ini tidak mendapatkan diskon. Berbeda dengan tahun lalu yang mendapatkan diskon sampai 50%,” tambahnya.

Komoditas Penggerak Inflasi

Dalam analisis lebih mendalam, terdapat lima komoditas yang menjadi penyebab utama inflasi di D.I. Yogyakarta. Tarif listrik menempati posisi teratas dengan andil inflasi 2,32%, diikuti oleh emas perhiasan yang mencatat andil inflasi sebesar 1,37%, beras dengan 0,17%, daging ayam ras yang memberikan andil 0,10%, dan bawang merah dengan andil sebesar 0,06%.

“Emas perhiasan selalu menjadi salah satu penyebab inflasi utama. Sedangkan harga beras yang sebelumnya tinggi kini sudah stabil,” jelas Endang.

Perbandingan Inflasi di Dua Kota

Pada bulan Februari 2026, kedua kota di D.I. Yogyakarta mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi tahunan sebesar 4,70% dengan IHK 109,47, sedangkan Kota Yogyakarta mengalami inflasi 5,19% dengan IHK 111,77.

“Inflasi di Kabupaten Gunungkidul lebih rendah dibandingkan Kota Yogyakarta, dengan inflasi bulanan masing-masing sebesar 0,66% dan 0,72%,” tutup Endang.

Dampak Inflasi untuk Masyarakat

Inflasi yang cukup tinggi di Yogyakarta berpotensi mempengaruhi daya beli masyarakat. Kenaikan harga pada berbagai komoditas, terutama kebutuhan pokok, dapat mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk memantau dan mengambil langkah strategis agar inflasi tidak terus melambung, demi kesejahteraan masyarakat.

Kesimpulan

Inflasi di Yogyakarta pada Februari 2026 mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak daerah di Indonesia. Dengan inflasi yang setara dengan tingkat nasional dan berbagai faktor pendorong, perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi.

OJK: Investasi Dana Pensiun Capai Rp399,27 Triliun per Januari 2026

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa total investasi industri dana pensiun sukarela per Januari 2026 mencapai Rp399,27 triliun, mengalami kenaikan sebesar 7,61% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/YoY). Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam sektor dana pensiun di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, dalam Konferensi Pers RDKB OJK yang berlangsung di Jakarta pada bulan Februari 2026. Menurut Ogi, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) mendominasi porsi investasi ini, mencapai Rp154,32 triliun atau sekitar 38,65% dari total investasi.

Komposisi Investasi Dana Pensiun

Lebih lanjut, Ogi menjelaskan bahwa komposisi investasi dana pensiun terdiri dari berbagai instrumen. Deposito menyumbang Rp109,94 triliun, setara dengan 27,04%, sementara investasi pada saham tercatat sebesar Rp22,53 triliun atau 5,64%. Adapun penempatan dana investasi pada Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp2,92 triliun, yang hanya berkontribusi sekitar 0,73% dari total investasi.

Ogi menjelaskan bahwa penurunan penempatan pada SRBI terjadi akibat adanya instrumen yang jatuh tempo dan diinvestasikan kembali ke instrumen lainnya. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk mengoptimalkan portofolio dan pengelolaan likuiditas, termasuk pengalihan ke SBN dan deposito.

Pengaruh Deposito dan Likuiditas

Peningkatan penempatan dana pada deposito juga dipengaruhi oleh kebutuhan untuk menjaga likuiditas, tingkat suku bunga yang masih kompetitif, serta karakteristik kewajiban jangka pendek, terutama pada Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang pesertanya cenderung memilih instrumen pasar uang. Ogi menegaskan bahwa perubahan komposisi investasi ini lebih mencerminkan strategi pengelolaan risiko aset dan liabilitas, bukan merupakan pergeseran struktural akibat kebijakan tertentu.

Return on Investment (ROI) yang Stabil

Ogi juga mengungkapkan bahwa Return on Investment (ROI) untuk dana pensiun sukarela hingga Desember 2025 tercatat sebesar 8,17%. Sementara itu, pada Januari 2026, ROI tercatat mencapai 0,31% jika dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/MtM). Ogi menilai capaian ROI ini mencerminkan strategi pengelolaan yang konservatif, yang tentunya berorientasi pada kesinambungan pemenuhan kewajiban jangka panjang bagi peserta dana pensiun.

Dampak Investasi Dana Pensiun di Indonesia

Dengan meningkatnya investasi dana pensiun, diharapkan akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Selain meningkatkan likuiditas di pasar keuangan, investasi ini juga dapat mendorong pembangunan infrastruktur dan sektor-sektor lainnya yang membutuhkan pembiayaan. Hal ini menjadi penting mengingat Indonesia tengah menghadapi tantangan dalam menghadapi perekonomian global yang tidak menentu.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pertumbuhan investasi dana pensiun yang tercatat oleh OJK menjadi sinyal positif bagi industri keuangan Indonesia. Dengan komposisi investasi yang beragam dan strategi pengelolaan yang hati-hati, dana pensiun diharapkan akan mampu memenuhi kewajibannya kepada peserta dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

BCA Salurkan Kredit Rp948,95 Triliun per Januari 2026, Naik 6,26%

Jakarta, Bisnis.com – PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengumumkan bahwa penyaluran kreditnya mencapai Rp948,95 triliun per Januari 2026, meningkat 6,26% dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebesar Rp893,02 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan kinerja yang positif dan menjadi salah satu indikator dukungan BCA terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan Kredit BCA Berdasarkan Segmen

Menurut EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, penyaluran kredit dilakukan secara selektif dan hati-hati, mencakup berbagai sektor ekonomi. “Kredit BCA mengalami pertumbuhan 6,3% YoY mencapai Rp949 triliun per Januari 2026,” ungkap Hera dalam keterangannya pada Kamis (5/3/2026).

Dari segmen kredit, Hera menyoroti bahwa kredit usaha tumbuh signifikan sebesar 9,9% YoY, mencapai Rp756,5 triliun per Desember 2025. Hal ini sejalan dengan komitmen BCA untuk mendukung perkembangan dunia usaha di Indonesia.

Penyebaran Kredit ke Berbagai Sektor

Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke sejumlah sektor, meliputi manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan sektor rumah tangga. Hera juga menegaskan bahwa dalam penyaluran kredit, BCA selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang disiplin, sambil mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan debitur berdasarkan aktivitas usaha mereka.

“Kami menargetkan pertumbuhan total kredit di tahun 2026 sebesar 8% hingga 10%,” tambahnya.

Tren Kredit Perbankan di Indonesia

Dari sisi industri perbankan secara keseluruhan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa total kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh sebesar 9,96% YoY menjadi Rp8.557 triliun, naik dari pertumbuhan 9,63% YoY pada Desember 2025. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh kredit dari bank-bank milik negara (BUMN) yang mengalami peningkatan sebesar 13,43% YoY.

Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, rasio Non-Performing Loan (NPL) juga menunjukkan peningkatan, dari 2,05% pada Desember 2025 menjadi 2,14% pada Januari 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kredit tumbuh, perhatian terhadap kualitas aset tetap penting.

Tantangan di Masa Depan

Menurut M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, meskipun pertumbuhan kredit tetap tinggi, kenaikan NPL menunjukkan perlunya manajemen risiko yang hati-hati. “Industri perbankan harus menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas aset untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan inklusif,” katanya.

Rizal menekankan bahwa pertumbuhan kredit tidak hanya harus tinggi dalam nominal, namun juga harus mampu mendukung pemulihan ekonomi yang lebih luas dan inklusif di Indonesia.

Kesimpulan

Dengan pencapaian penyaluran kredit yang signifikan, BCA menunjukkan perannya sebagai salah satu pilar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, tantangan kualitas aset tetap menjadi perhatian utama bagi industri perbankan, yang harus diatasi melalui manajemen risiko yang baik agar pertumbuhan yang dicapai tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan.

Peluang Ekspor Indonesia di Tengah Ketegangan Global

Jakarta, Bisnis.com – Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia menilai bahwa ketegangan geopolitik global, termasuk potensi penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz, menciptakan peluang baru bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi dalam peta perdagangan internasional.

Di tengah ancaman gangguan rantai pasok, pemerintah mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menjadi garda terdepan dalam mengisi kekosongan pasokan di berbagai negara. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan bahwa saat ketegangan geopolitik mempengaruhi rantai pasok global, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat posisinya di perdagangan internasional.

Strategi Pemerintah Menghadapi Krisis Geopolitik

“Ketika terjadi krisis geopolitik, biasanya peta perdagangan akan berubah. Jika rantai pasok global terganggu, otomatis ada negara yang mengalami hambatan dalam ekspor dan impor,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, pada Kamis (5/3/2026).

Menurut Budi, gangguan pada rantai pasok yang diakibatkan oleh krisis geopolitik dapat menimbulkan kekosongan pasokan di sejumlah pasar negara lain. Hal ini bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperluas pasar dan memenuhi kebutuhan yang sebelumnya dipenuhi oleh negara pemasok lain.

Contoh Program Business Matching

Salah satu langkah konkret yang diambil adalah program business matching yang melibatkan UMKM, yang kini mulai menunjukkan hasil. Pada bulan Januari, transaksi yang terjadi mencapai 4 juta, dan pada bulan Februari, Kemendag telah memetakan negara-negara yang mengalami kekosongan pasokan akibat krisis global, seperti di kawasan Asia Tenggara dan Afrika.

Budi menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya untuk cermat membaca peluang pasar tersebut. Kemendag juga akan melakukan survei untuk memastikan negara atau kawasan yang mengalami gangguan pasokan sehingga produk Indonesia dapat menjadi target ekspor baru.

Peran UMKM dalam Ekspansi Pasar

Pemerintah menekankan pentingnya peran UMKM dalam situasi ini. Dengan karakteristik yang lebih fleksibel, UMKM diharapkan dapat cepat beradaptasi dan masuk ke pasar-pasar baru dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini diharapkan dapat membantu memanfaatkan peluang yang muncul akibat terganggunya rantai pasok global.

“Kami mendorong pelaku UMKM untuk berpartisipasi aktif dalam memanfaatkan situasi ini dan menggali potensi pasar baru,” tambah Budi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di kancah perdagangan internasional, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Kesimpulan

Dinamika geopolitik global yang memanas menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Dengan strategi yang tepat dan dukungan dari pelaku UMKM, diharapkan Indonesia dapat mengisi kekosongan pasokan di pasar internasional dan memperkuat posisinya di dunia perdagangan.